#DearViny: Don’t. Look. Back.

Standard

#DearViny adalah kategori khusus untuk setiap post di blog ini yang ditulis dan ditujukan untuk dibaca Viny.

Surat pertama untuk Viny, berjudul Dear, Viny. bisa dilihat di sini. Postingan awal yang memulai tagar #DearViny di blog ini ada di sini.

==============================================

Dear, Viny.

It’s been a very long time!!!

Salahku. Totally salahku karena memutuskan jarang nulis di sini, eh ternyata bener-bener jarang. Yang paling kuingat dari projek #DearViny adalah pertemuan kita di JCM, Jogja yang aku tulis di sini. Selesai acara aku menulis satu cerita, lalu satu lagi cerita berikutnya, dan tahu-tahu blog ini mati suri.

Maaf.

So, let’s start it over again, shall we?


“Jangan berbalik, lebih majulah dari kemarin. 

Tak ada impian di belakang, don’t look back! Go ahead!”

Bulan Oktober kemaren aku mulai handle 4 buku sekaligus untuk diterbitkan kisaran bulan November-Desember. Di saat bersamaan, I was here in the office along with my worst feeling towards almost everything. Banyak hal yang rasanya salah di kantor, mulai dari pekerjaan sampai ke partner kerja.

Masa-masa down yang berakhir pada segelas Chacha Milk Tea dan telinga teman baik itu rasanya…..menyenangkan. Tadinya aku berpikir untuk langsung berbalik saat itu juga, tapi untung saja, aku tidak jadi se-coward itu.

Aku harap kamu melakukan hal yang sama.

WhatsApp Image 2017-11-07 at 16.51.43


“Jangan berbalik, walau selangkah, ayo melangkah.

Tinggalkan dirimu yang kemarin, hang in there! Never give up, buddy!”

Pertama kali mendengar selentingan kabar tentangmu, aku terkejut. Penurunanmu ke tingkat trainee tentu merupakan “kejutan” bagi pendukungmu di luar sana, termasuk aku.

Baru-baru ini, aku menemukan padanan kata move on paling sesuai di bahasa Indonesia: “beranjak”. Sounds cool, eh? Pada saat yang sama, aku mengingat kesedihanku yang baru saja aku sebutkan. Rupanya, hatiku berkonspirasi: mungkin ini sudah saat aku “beranjak”.

Tidakkah kamu berpikir hal yang sama perlu kamu dan kita lakukan?

8588769917_f26304869d_b


“Ini memang bukan jalan yang mudah, semua orang juga pasti ingin menyerah. Tapi jika ini mimpi yang dipilih, kerahkanlah seluruh jiwa dan raga!”

Aku yang seorang editor dan kamu yang seorang idol. Semuanya terlihat menyenangkan, bahkan sepertinya tak mungkin bermasalah. Tapi masa-masa susah itu sangat nyata, bukan? Keinginan untuk menyerah sepertinya sering kali muncul, bahkan aku pernah diam-diam menyusun surat resign!

Tapi kalau kita duduk dan berpikir sekali lagi, tidakkah semuanya terasa konyol? Sejak awal, aku-lah yang mengisi formulir pekerjaan itu, sama seperti kamu mengisi formulir untuk audisi. Kita-lah yang memilih jalan ini, kita-lah yang menginginkan jalan ini.

Sebenarnya, semuanya masih terserah pada kita. Padaku, sebagai editor. Padamu, sebagai idol.

Sejak bulan lalu, aku memutuskan terus berjuang saja. Semoga kamu pun masih terus begitu.

videovinysemeru


“Terpukul jatuh sekalipun, ayo bangkit kembali. Rentangkan tangan meraih mimpi, selama kita masih bernyawa.”

Dear Viny,

Aku tidak bermaksud menulis kata-kata motivasi di post ini, tapi aku rasa sedikit sharing tak akan menyakitimu.

Aku pernah terjatuh dengan kasar dari atas motor, dua kali. Perban yang sekarang menempel di lututmu pernah pula serupa dengan lututku, walaupun mungkin sakit yang kamu rasa lebih pekat daripadaku. Tapi, perlu kamu tahu, saat kamu terpukul jatuh ataupun literally terpukul sampai jatuh, kamu selalu bisa berdiri. Perhatikan sekitar, ada tangan-tangan yang terulur.

Jangan pedulikan mereka yang melipat lengan; kamu selalu akan bisa berdiri. 

viny

 


Ratu Vienny Fitrilya,

Semuanya akan baik-baik saja.

 

 

Selalu di belakangmu,

Ri (dan seluruh pendukungmu)

Advertisements

#DearViny: Dua Puluh Sembilan

Standard

#DearViny adalah kategori khusus untuk setiap post di blog ini yang ditulis dan ditujukan untuk dibaca Viny.

Surat pertama untuk Viny, berjudul Dear, Viny. bisa dilihat di sini. Postingan awal yang memulai tagar #DearViny di blog ini ada di sini.

==============================================

Dear, Viny.

Bertahun-tahun lalu, aku lahir di tanggal 29 (menjadi alasan kenapa aku sangat menyukai angka ini).

Dalam kisah Harry Potter, 29 Mei adalah waktu di mana Harry dan Ron berusaha menyelamatkan Ginny dari Basilisk.

Tanggal 29 Juni 1997, penerbit yang menerbitkan Harry Potter di UK meng-auction hak publikasi seri ini untuk diterbitkan di AS.

We don’t know, but I guess there’s still a lot of moments happen in 29.

==============================================

Tujuanku menulis ini bukan untuk membanggakan angka 29; mengatakan bahwa kamu sangat layak “hanya” di posisi itu.

Aku rasa, kita semua sepakat bahwa sebenarnya, you deserve the higher number.

Tapi, seperti yang kamu bilang,

mungkin, ini adalah yang terbaik untuk kamu, sekarang.

Pun begitu; untuk kami, untuk kita.


Adalah hak setiap orang untuk mengeluh, menyalahkan, berpuas diri, atau bagaimanapun mereka bersikap. Yang jelas, kamu harus tahu (aku rasa kamu pasti tahu), bahwa setiap orang ini sudah berusaha untukmu. Apa yang membuat berbeda adalah kuantitas.

Bukan kualitas.

Seseorang, bisa saja berusaha sangat keras demi membahagiakanmu. Namun di sisi lain, ada seseorang pula yang justru menjadi bahagia karena kamu.

Hidup adalah semudah itu. Ada hal-hal yang tidak bisa kita capai hanya dengan sekali berlari; ada pula yang terasa jauh padahal sudah sangat dekat. Aku tidak mau menyebut ini suatu kekurangan, karena, bagaimanapun,

angka ini adalah kepercayaan yang diberikan kepadamu.

viny29

Selamanya Ratu kami.

==============================================

Ini bukan comforting post, karena aku rasa kita semua bisa sama-sama belajar dari sini. Kamu tidak kalah, kami pun tidak menyerah. Entah bagaimana caranya, tapi kami masih tetap kekeuh mau dukung kamu dari sini. Dari Jakarta. Jogja. Surabaya. Semarang. Solo. Kota-kota lain; you name it.

Dengan nomor 29 yang kamu pegang, jangan merasa terjatuh.

Percayalah, 29 isn’t that bad. Make it beautiful, shall we?


While you’re reading this, please remember: “#KitaBisa” bukanlah hanya sekadar tagline pemicu untuk mendapatkan mimpi–tapi juga mengenai bagaimana kami dan kamu harus bersikap menghadapi semua rintangannya.

Kita (masih) bisa, kan?

 

Watching from a far,

– Ri –

 

==============================================

BONUS:

You can even make this cute creature by writing 29!

29

Wanna try?

Have fun, Ratu!

#DearViny: Bisa.

Standard

 

#DearViny adalah kategori khusus untuk setiap post di blog ini yang ditulis dan ditujukan untuk dibaca Viny.

Surat pertama untuk Viny, berjudul Dear, Viny. bisa dilihat di sini. Postingan awal yang memulai tagar #DearViny di blog ini ada di sini.

==============================================

Dear, Viny.

I’m really writing this right now. Hehe. Maaf ketunda-tunda, karena …

well, let me let you read this post aja, ya 🙂


Jogja, 15 April 2016

Hari itu, aku berangkat jam 2 pagi ke Jogja demi mendekati mimpi. Seperti yang kamu bilang: #KitaBisa, kan? Jadi, walaupun bis malem itu ngebut dan sedikit goyang mengkhawatirkan, aku tetap duduk di kursiku sambil berdebar-debar.

Padahal kemarinnya, aku masih di Cilacap, bertemu anak-anak kecil kelas 1 SD yang juga menjadi mimpiku.

20160420_123107

You know what? Susah banget motoin anak-anak di kelas saking aktifnya. Foto plang kelas aja kali, ya. Haha.

 

Sekolah ini, 12 tahun yang lalu, telah selesai membesarkanku selama 6 tahun. Saat aku kembali ke sana tahun ini, guru-gurunya berkata sedikit geli dan penuh kasih sayang,

“Anak-anak, Miss ini muridnya Ibu waktu dulu.”

Walaupun sudah bertemu keriangan dari sekian banyak anak-anak yang mengekoriku sambil berlarian berusaha kabur main ayunan, aku tidak ingin melemparkan alasan apapun untuk keputusanku berangkat ke Jogja. Yang aku pahami, aku mempunyai kesempatan sekali lagi untuk mengejar keinginanku sedari dulu.

Kali ini, aku tidak akan menyerah.

efi

Kenalkan: Andalanku!

Jadi,

hari itu, aku sampai di Jogja yang sama-sama kita cintai. Sudutnya berbeda dengan kenanganku kuliah selama 4 tahun kemarin. Tapi, aromanya sama.

Aroma kebahagiaan.

Hari itu adalah interview pertama dengan HRDAku hanya mengernyit sedikit karena merasa super grogi–kenapa aku tidak mempersiapkan apapun?!

Ketika ada seorang laki-laki datang dan memintaku masuk untuk memulai interview, aku hanya merasa bahwa aku akan menjawab apapun dengan sejujurnya.

Bagaimanapun, pekerjaan ini adalah mimpiku.

“Siang, Mba. Namanya siapa?” tanya si HRD.

==============================================

Sudah 12 hari yang lalu.

Dua belas hari yang lalu adalah hari di mana aku memutuskan memulai pengejaran ini. Beberapa hari setelahnya, teleponku berdering; memberiku kabar untuk datang lagi ke Jogja.

Tapi, sebahagia apapun kita, pasti, selalu ada yang kita korbankan, kan?

20160420_123118

Untuk tidak lagi bertemu tawa dan teriakan berisik rombongan anak SD itu adalah keputusan yang cukup berat, sebenarnya.

==============================================

Ada hari di mana kita harus memilih.

Untuk bertemu keceriaan dari mereka yang berseragam putih-merah atau untuk menciptakan keceriaan lewat kata-kata di kota impian?

Aku hampir habis akal untuk memilih. Tapi, tahu-tahu akhirnya, aku bersalaman dengan seorang wanita di kantor itu.

Di Jogja.

Katanya,

“Selamat bergabung bersama kami.”

20160425_133629

Let me say it clearly: An. Editor. Yes. Me!!!

==============================================

Suatu hari aku menunggu keputusan yang lain.

Jogja City Mall.

Ada banyak sekali orang di sana–kebanyakan laki-laki, dan ada pula perempuan yang usianya mungkin lebih muda dariku.

Dan… aku ngapain, sih?

20160424_130602

Kok ngantri, ya?

Kakiku ragu-ragu: maju atau mundur?

Sedikit geli, tadinya berusaha mati-matian menunduk. Siapa tahu, ada temen jaman kuliah yang lewat. Ehh… beneran. Ketauan deh woti (?).

Pokoknya, setelah beberapa langkah yang terasa seperti jarak Cilacap-Jogja, aku masuk…

bertemu kamu.

“Halo, namanya siapa?”

“Ri.”

Matamu membulat, aku masih ingat. Kamu menepuk telapakmu sendiri dengan telapakmu yang lain. Hahaha.

Untuk semua yang kamu katakan, terima kasih, ya!

Kegembiraan penulis, kamu tahu? Saat ada yang bilang bahwa mereka membaca kami.

Aku sadar aku sekaku kawat saat itu. Entah karena aku terlalu tersipu, atau kamu terlalu baik hati. Yang jelas, aku bahkan tidak repot-repot meminta gaya lain saat kamu mengajakku berpose dengan simbol hati (ya Tuhan, Inyi! wkwkwk). Aku juga tidak ribut-ribut meminta gambar kita jangan diambil dengan aku berada di sisi kiri–you know, that side makes me look bigger wkwkwk (I’ve lost 9kgs, loh, tapi jadi ga keliatan hahaha).

You know–it’s a girl’s things.

Tapi, overall, siang itu aku merasa pilihanku untuk mengantri sampai tuntas sudahlah tepat.

Maksudku, seorang Ratu tak mungkin bisa dilewatkan, bukan?

==============================================

Begini, biar aku ceritakan sedikit.

Tadinya, aku hanya duduk diam ingin menulis untuk kamu. Janjiku untuk membuat tulisan ini sudah berhari-hari lalu–tapi selalu gagal. 

Maaf, ya! Setiap kali ingat bahwa kamu bahkan sudah memintaku langsung untuk menulis, aku tertawa kecil sendirian di kantor (cieee wkwkwk). Padahal, buku yang saat itu aku edit, buku serius. :))

Kenapa aku bisa mendapatkan itu–kenangan sekaligus impian yang jadi nyata? Bertemu kamu setelah resmi menjadi editor?

Karena aku memutuskan untuk bertemu kamu. Karena aku memutuskan untuk menjadi editor.

Di titik ini, aku mengamini segala filosofimu di balik tagline #KitaBisa. Sesuatu yang selama ini hanya di benak kita, tidak menjamin dirinya untuk tidak bisa tercapai.

Ratu Vienny Fitrilya,

terima kasih, ya, sudah mengajak kami untuk tersenyum dan menunjukkan mimpi.

Karena, ternyata, semuanya memang BISA dilakukan!

See you when I see you. Kapan-kapan, ya!

==============================================

PS: Thanks for reading me here and there! Glad to know that you even remember my book’s title… :”) A picture with Luna and Sefone, please? Hehe.

PS (lagi): Sorry for being super nervous! Was too happy. Really.

 

Bye!

– r i –

#DearViny: Untold Wishes

Standard

#DearViny adalah kategori khusus untuk setiap post di blog ini yang ditulis dan ditujukan untuk dibaca Viny.

Surat pertama untuk Viny, berjudul Dear, Viny. bisa dilihat di sini. Postingan awal yang memulai tagar #DearViny di blog ini ada di sini.

==============================================

Dear, Viny.

Jakarta ramai, ya?

I really mean it. R a m a i.

krl

Naik KRL penuh.

macet

… apalagi naik mobil.

Jalan kaki pun jadi lebih cepat. Orang-orang seperti diburu waktu, dipasangkan tenaga yang nyaris sama kuatnya.

Jakarta ramai, ya, kan?

Walaupun menyebalkan, aku rasa Jakarta sih berjasa. Orang-orang ini–yang menyesaki tiap jengkal tanahnya–mendapat rejeki dari Jakarta di matanya.


Jakarta pernah menawarkan keberuntungannya padaku–alasanku datang ke sana sejak minggu lalu. Tapi bagaimanapun baiknya ia memberiku peruntungan, batasnya juga muncul. Pengumuman akhir seharusnya tanggal 23. Tapi… Interview kerja pertama yang akhirnya tidak lolos.

Padahal tadinya kupikir tanggal 23 akan jadi tanggal kebahagiaanmu dan tanggal keberuntunganku.

Mungkin Jakarta belum merasa aku akan siap dengan keramaian, ya?

Baiklah. Tidak apa-apa. Sebentar lagi akan pulang ke Cilacap yang situasinya berbanding terbalik dengan Jakarta. Haha!

Tapi sebelum pulang, masih ada satu lagi email di inbox-ku.

VERIF SEITANSAIMU!


 

20160224_091315.jpg

Buat apa datang?

Orang-orang dekatku tau aku memang bukan orang yang nyaman nonton sendirian. Jalan sendiri, iya. Tapi, nonton sendiri? Like… uh. Who’s gonna sit beside me? A super weird alien wearing a weird hat?

Tapi hari itu, tenaaang~ Karena ada Ibo wkwk. Itu kunjunganku kedua ke teater dan aku masih suka bingung aja. Lucky that I’ve got a friend beside me. Semuanya pasti baik-baik aja!

20160224_091020

… emmm somehow it was surprising to see my own self holding this.

… karena biasanya pegang lightstick Super Junior (you know yang ujungnya lengkap ada huruf hangul dan logo saturn-nya wkwkwk), agak-agak krik-krik gitu pegang LS potek. But it was fun! Project yang niat dari kelompok orang-orang yang mendukung kamu. Beautiful, wasn’t it?

Dan selanjutnya,

I enjoyed the show.

Menyenangkan! 😀


 

Jakarta ramai, ya, kan?

Padat, seperti antrian orang-orang untuk hi-touch setelah show.

Aku ikutin aja mas-mas di depanku masuk antrian. Bersiap-siap menghitung dalam hati dan berada tepat di depanmu, mengucapkan “selamat ulang tahun” sekedarnya.

Apalagi, di kantongku, ada sesuatu.

Tapiiii…

I was supposed to give you a birthday greeting, yet I didn’t. I was supposed to give you this “thing” inside my pocket (or at least, as we weren’t allowed to give the gift to the member, I should ask for help from the security, maybe?), but I didn’t. How could I be that nervous in front of a 20-year-old girl?!

So, instead of “Happy birthday”, I said “Thank you” to you.

Like… Hello? Were you fine, dear my-own-self?

Tapi kamu, tertawa menyenangkan, setelah sedikit mencondongkan badanmu ke depan, said coolly,

“Iya, terimakasih, ya!”

You just didn’t know I was having a firework party inside me that time.


Jakarta memang ramai.

Mungkin kalau dijabarkan, pikiranku juga ramai. Setelah show, karena udah ditelepon bapake, aku langsung dissaparate (tapi bo’ong) cari ojek-jaket-ijo.

Meanwhile, kepalaku masih ramai. Semua keseruan dan kebodohannya masih terekam.

To not be able to say “Happy birthday” to you, to not be able to give this “thing” to you, I am sorry.

I guess I was just too excited.

Or, simply, I was just too silly. Huhuhu.

Tapi sebenarnya, sangat ingin bilang “Selamat ulang tahun” di depan kamu. Karena kesempatan itu sudah terbuang dengan bodohnya, semoga doa buat kamu tetap tersampaikan!

Selamat ulang tahun, Ratu Vienny Fitrilya! You may be younger than me, but it won’t stop you to keep inspiring me. Thanks for being such a lovely person for me and many people outside.

Keep being the Ratu we love~!

==============================================

PS: Di foodhall kemaren sore, beli apa? :p

It was funny to realize that we were so close wkwkwk.

 

 

Bye!

– r i –

 

 

#DearViny: After all this time? Always.

Standard

#DearViny adalah kategori khusus untuk setiap post di blog ini yang ditulis dan ditujukan untuk dibaca Viny.

Surat pertama untuk Viny, berjudul Dear, Viny. bisa dilihat di sini. Postingan awal yang memulai tagar #DearViny di blog ini ada di sini.

==============================================

Dear, Viny.

Apa kabar?

Udah lama ga nulis #DearViny. Well, ya memang ga ngaruh apa-apa di kamu sih. Hehe. However, this is one of the places I can visit to whenever I want to write. So, yeah… For me, it’s good to be back here right now.

Pertama-tama… Happy new year! Telat banget memang, tapi toh kita akan berada di tahun 2016 selama 366 hari, jadi ga masalah kan, ya. Semoga di tahun ini, Viny selalu jadi Viny yang memberi inspirasi bagi siapapun yang mengaguminya. Amen for that!


 

Kemarin-kemarin, ada teror bom di Sarinah. Imbasnya, show teater ditiadakan beberapa hari, which means, kesempatan orang-orang bertemu kamu minggu lalu harus disimpan dulu. Sebenernya ada baiknya juga: selain lebih aman, kamu pun (dan member lain serta penonton) juga jadi punya waktu lebih.

Untuk beristirahat, kegiatan lain, atau sekedar “me-time” apapun yang kamu.

Yet, as for me, the worst “me-time” was the time when we were doing nothing, feeling lazy, and suddenly the news came… The bad one.

6

Alan Rickman.

The one man who played as Severus Snape.

Well, yes, I’m a Potterhead. People around me know that fact well. Sudah ada beberapa berita meninggalnya tokoh Harry Potter lainnya sebelum ini. Semuanya adalah duka.

Mungkin karena Snape adalah tokoh kunci, mungkin karena peran Snape mengaduk emosi, atau simply karena Alan bukan sekedar memerankan Snape–it was because he was the character–kepergian Mr. Rickman mengejutkan kami semua. Kita semua.

Kebanyakan, kita tak tahu berita dia sakit. Yang kita ingat adalah goodbye-words-nya sebagai Severus Snape, seperti yang tertulis di sini:

alan1

“Three children have become adults since a phone call with Jo Rowling, containing one small clue, persuaded me that there was more to Snape than an unchanging costume…”

Iya, sebagai Snape yang selalu muncul di film Harry Potter, tentu Alan Rickman ikut menjadi “saksi” perubahan usia golden trio kita: Daniel, Rupert, dan Emma. He was so lucky there, wasn’t he? I mean, he saw them since…

goldentrio

…since these kids were kids…

…up to…

gtlast

…their last time being on the set together.

Selain kalimat “…containing one small clue, persuaded me that there was more to Snape than an unchanging costume…”, Alan juga bilang kalau J.K Rowling kasih dia “little piece of information”. Lengkapnya, here is what he said on 2011,

“She gave me one little piece of information, which I always said I would never share with anybody and never have, and never will. It wasn’t a plot point, or crucial in any tangible way, but it was crucial to me as a piece of information that made me travel down that road rather than that one or that one or that one.”

“Little piece of information” ini terus menjadi sebagaimana kata-kata itu dirangkai. Rahasia yang disodorkan narator cerita super hebat kepada aktor dalam cerita yang memainkan tokohnya dengan nyata. Hingga tanggal 18 Januari kemarin, Jo menjawab sebuah pertanyaan di twitter-nya.

josnape

“Piece of Information”

Luckily, the question was answered by the Queen herself.

josnape2

“Always”.

So, after all this time, he knows. He always knows.

Crying yet? Me too.


 

Severus Snape berulang tahun tanggal 9 Januari. Lima hari berikutnya, aktor yang memerankannya pergi menyusulnya ke “sana”

Menurutmu, apa yang sedang mereka lakukan sekarang?

 

snapealan

The bravest man.

==============================================

Bagaimana seseorang bisa pergi, adalah misteri. Bagaimana kita bisa meninggalkan sesuatu, adalah takdir. Bagaimana kita bisa ditinggalkan, adalah rencana-Nya.

Memiliki sesuatu (seorang guru, seorang teman, hingga seekor peliharaan) adalah hadiah yang diam-diam Dia kirim dari atas sana. Membaca ceritamu saat itu, aku tahu betul bagaimana rasanya.

Tahun baru ini, tepat tanggal 1 Januari 2016, adalah hari di mana 3 tahun yang lalu seorang adik sepupuku pergi ke tempat yang tak berbatas itu.

Usianya masih muda. Kalau dia masih menghirup udara yang sama dengan kita, tahun ini ia juga akan berusia 20 sepertimu. Bedanya, dia adalah seorang laki-laki.

3 tahun yang lalu dia pergi, tapi sampai sekarang dia selalu ada di kepalaku.

Jadi bergembiralah, orang yang kita sayangi akan terus menjadi orang yang kita rindukan. After all this time. Benar.

A L W A Y S.


 

Semoga gurumu, temanmu, hingga Poci-mu juga hidup dengan damai di sana. Doa yang sama yang selalu aku kirim untuk adik sepupuku yang terus hidup di hatiku.

Hey,

mereka mungkin sekarang bahkan sedang bertemu Alan?


 

PS: After all this time, we’ll always be here with you, Ratu. Hehehe.

 

– r i –

Setelah 365 Hari

Standard

07 Des.

7 Desember sebelumnya tidak berarti terlalu dalam untuk aku. Hal yang terlintas di kepalaku setiap tanggal 7 Desember adalah judul album Sheila on 7 (07Des) dan fakta bahwa 7 Desember adalah hari ulang taun salah satu sahabatku masa SMA.

Tapi, sejak tahun lalu, maknanya bertambah satu.


Satu tahun yang lalu, ada kenangan menyenangkan yang terlintas sebelum tidur malam. Siang harinya pada waktu itu, aku datang ke tempat yang dikerumuni orang (kebanyakan laki-laki) dengan suara musik ceria yang menghentak.

Aku masih ingat.

“Periksa tasnya, jangan bawa makan minum ke dalem.”

“Woi jangan nyelip, antri!”

“Kok belom open gate, ya?”

“Li, kok itu….om-om?”

Hahaha.

Kalimat terakhir itu kalimat dari kakakku. I mentioned about her when I met you that day. Remember?

Kalau kita tarik lagi waktunya ke hari sebelum itu, aku juga masih ingat. Naik kereta dari Jogja. Nungguin kakak balik kantor di Jatinegara. Nervous sampe malem sebelum tanggal 7… Kenapa?

Because that day was… the day.


 

Do you remember how we met?

Masuknya sederhana. Selesai antri open gate, langsung masuk antrian, ambil CD single (karena belinya online). Karena open gate-nya mundur, waktu sesi 1 HS udah lumayan ‘kemakan’. Akhirnya mau langsung masuk buat HS aja.

And we were at the same place, finally.

Setelah registrasi dan dibolehin masuk ke area HS, I was both shocked and confused. Iya, aku ga pernah ikut HS Festival, so things were new for me. Many people. Not too crowded yet, but everything was so new and exciting.

Ada member-member. Tapi, I didn’t even see their faces. Aku cuma liat nama mereka: Melody, Viny, Lidya….

Dan di situlah kamu.

Setelah buru-buru berjalan mencari nama dua kata yang jadi alasan aku berkereta ke sana, aku mendekati biliknya.

I saw you.

Dan begitu saja rasanya.

Bukan kupu-kupu di perut. Bukan debaran aneh seperti jatuh cinta.

Hanya perasaan yang bisa kamu rasakan ketika bertemu seseorang yang kamu harap bisa ada di depanmu secara langsung.

ricalulus.jpg

Di depanku ada seorang laki-laki yang antri, dan seorang lagi yang sedang HS sama kamu, kan, Teh? Waktu itu, aku pengen mundur. Hahaha. Asa belum siap. Tapi ya gimana, si kakak kan udah nunggu di luar…

Akhirnya antriin aja. Si laki-laki paling depan udah selese, lanjut ke laki-laki kedua buat HS. Aku maju.

That was crazy. I was going to meet you! You, whom I always adore. Meeting the person whom you adore isn’t easy, man. You’ll keep wondering if that’s real or not, you’ll keep asking why you are even there, asking if this is the right thing to do, if you’ve got enough nerve to meet that person…

Masih ingat? Aku masih. I wrote every single thing here.


 

Setelah kamu grad, Teh, I decided to stop. Seperti yang aku bilang waktu HS, aku mau fokus kuliah aja. Nyatanya, laporan, magang, laporan lagi, proposal, bimbingan… semuanya nyita waktu, ya. Aku menikmati. Seperti kamu yang juga menikmati kelulusan itu.

(here, you may insert all of your happy memories after the graduation)

Butuh waktu 4 bulan sampai aku punya oshi baru lagi, in the group (lol yes, I thought I would never come back, but it was kinda addictive), dan jarang buka akun translate-an karena revisi numpuk.

Screenshot_2015-12-07-22-52-30.png

Teteh sempet bilang, “Ri, semangat skripsinya, ya! Aku doain Ri lulus skripsinya.”, berdasarkan request aku di zeemi hahaha!

Tapi ga papa, kan?

Soalnya, saat itu, aku lagi berupaya meniru kostum yang kamu pakai di HS terakhir.

rica toga.jpg

TOGA.

Dan,

coba tebak?

I did it.

IMG-20151128-WA0016.jpg

You’re prettier, but at least I’m wearing toga in this photo :p


 

Dalam 365 hari, banyak hal yang terjadi.

Kamu, Teh, punya channel di Zeemi, MnG ke Jepang, lelang amal, buka bersama, diliput di TV, sampai yang terakhir kemarin MnG di Bandung.

Aku juga.

Bab 1, bab 2, bab 3, bab 4, bab 5 , sedih ditinggal dosen pembimbing ke Belanda, sidang skripsi tanpa beliau, dan lain-lain.

You lived your life, I lived mine.

Selama ini, selama kamu masih di JKT48, aku selalu lihat kamu. Sejauh apapun jaraknya, selalu ada waktu yang menyela hanya sekedar untuk membaca tweet.

Sekarang, sekali lagi, selamat atas kebebasan kamu untuk memilih jalan mana yang kamu mau untuk karirmu. I may not always be there to reply every tweet of yours, or to watch your live streaming, or to come to your events,

but I’m still here.


 

Teh Rica, coba ingat-ingat dengan baik waktu kita HS.

Ada saatnya aku bilang “Terima kasih”, kan? Ada juga saatnya kamu peluk aku, kan?

Sekarang, coba tutup mata, terus inget lagi caraku bilang “terima kasih” waktu itu, dan caramu memeluk.

Karena, dua hal itu yang sekarang paling ingin aku kirim untuk kamu.

Terima kasih, Rica Leyona! ❤

 

 

– Ri –

#DearViny: Jogja.

Standard

#DearViny adalah kategori khusus untuk setiap post di blog ini yang ditulis dan ditujukan untuk dibaca Viny.

Surat pertama untuk Viny, berjudul Dear, Viny. bisa dilihat di sini. Postingan awal yang memulai tagar #DearViny di blog ini ada di sini.

==============================================

Dear, Viny.

Tell me how it feels to finally celebrate your 300th show and hold #K3sungguhan with the team?

Pasti jadi jadwal super hectic buat kamu. Lagu ini, lagu itu. Koreo ini, koreo itu. Latihan. Waktu yang singkat tapi terasa sedikit lebih lama, ya?

Tapi pada akhirnya, you did it.

Selamat, ya! Walaupun (tetep), kata ‘selamat’ itu ga bisa diucapkan langsung, tapi sebuah perkataan tulus selalu bisa disampaikan, kan? 😀


Jadi, hari ini aku balik ke Jogja–kota perantauanku sejak 4 taun lalu, sekaligus ‘rumah’ kedua setelah Cilacap. Perjalanan semestinya cuma 5 jam, tapi molor gara-gara nungguin shuttle yang super lama.

Waktu masuk Jogja, belum ada perasaan apa-apa. Begitu sampai, dijemput Mas Hutan *ehehe* dan sampai di kos.

Felt tired padahal di bis kan duduk aja. Ketiduran. Tiba-tiba kebangun dan langsung mikir.

How many days left?

Kedatanganku balik ke Jogja sekarang adalah karena besok Mas Hutan wisuda, dan 10 hari kemudian aku yang gantian pakai toga. Setelah itu kita akan pulang (literally) dan melanjutkan hidup di tahap yang bener-bener berbeda: bukan mahasiswa.

Seandainya kelulusan itu semudah kita mencari-cari tiket pesawat secara impulsif dan kebeli dan mendarat di kota yang kita mau, aku tidak akan berpikir sekeras ini. Tapi bagaimana jika nyatanya kelulusan adalah kemungkinan terbesar kita harus berpisah dengan kota ini?

Jadi tiba-tiba tadi aku berdiri dari kasur, dandan seadanya, ambil kunci motor, dan let myself go around Jogja.

Aku bukan tipe orang yang suka main setiap hari, tapi aku juga ga akan terlalu menikmati hari-hari di balik dinding. Sudut-sudut Jogja belum habis kutempuh semua, tapi sebentar lagi ada toga yang dipasang di kepalaku tanda aku sudah sampai di akhir waktu berjuang S1 di sini. Ya, beberapa ruas jalanan Jogja seringkali kulewati, sendiri, ataupun dengan teman. Tapi ada satu tempat yang belum pernah aku kunjungi sendirian.

Malioboro.

Entahlah. Padahal dulu, sebelum kuliah, aku suka membayangkan diriku sendiri duduk di sekitar titik 0 KM sambil memikirkan cerita pendek apa yang seharusnya kutulis. Nyatanya, kebanyakan waktu ke sini adalah siang atau sore hari, dengan ditemani seseorang, atau malah kelompok.

Malioboro, mainstream tapi selalu jadi tempat di mana aku yakin aku sudah sampai di Jogja yang benar.

Jadi dengan absurd-nya, aku cuma bisa berjalan-jalan sejauh kakiku bisa (ps: tadi pagi abis luka kebaret kawat mayan panjang jadi cepet pegel kalo berdiri huhu), menikmati diri sendiri berbicara bahasa Jawa  yang Jogja banget sama ibu-ibu penjual tas anyaman, nyium bau kuda *lah*, ngeliat ini itu… tanpa terbatas waktu.

Lalu pulang ke kos lewat jalan yang nembus-nembus I didn’t even know.

Yet, I did it for some reasons.

Dan aku menikmati escape itu.

Kelulusan tentu saja membahagiakan. Tapi kalau kelulusan berarti aku harus kembali ‘pulang’ dan menjadikan Jogja sebatas ‘luar kota’ lagi, aku belum tau bagaimana rasanya.

Sore itu, Jogja hanya terasa sangat tepat.

Beberapa kali aku pergi sendirian, tapi perjalanan tadi sore entah kenapa rasanya dalem banget.


Kelar ‘kencan’ sama Jogja, aku cuma bisa diem sambil ngeliatin tas anyaman (yes i finally bought that lol). Bagus tasnya!

Dan Jogja-nya.

 

I’m not the only one thinking that way, kan?

 

PS: I just read your blog and am surprised to know you’re here too. Right after this ‘blue’ feeling.  Well… Have a very good Jogja time!

 

– r i –