#DearViny: Ketakutan dan Bingo

Standard

#DearViny adalah kategori khusus untuk setiap post di blog ini yang ditulis dan ditujukan untuk dibaca Viny.

Surat pertama untuk Viny, berjudul Dear, Viny. bisa dilihat di sini. Postingan awal yang memulai tagar #DearViny di blog ini ada di sini.

==============================================

Dear, Viny.

Aku bukan pakar berbicara-di-depan-umum. Aku terlalu suka mencium bau halaman-halaman buku, atau mengibas debu yang menempel di pinggiran punggung buku. Aku lebih suka mendengarkan–kalau boleh jujur. Atau bercerita–tapi hanya kalau aku diberi media kertas dan pena, atau notebook, kalau kau mau yang lebih canggih.

Singkatnya, aku pembicara yang payah.

Tadinya.

Tapi, sebagai mahasiswa kependidikan, aku harus terbiasa bicara di depan umum–at least, di depan kelas. Atau murid-muridku kelak. Ya iya lah! Mana suka kita sama guru yang kerjanya cuma diem, masuk kelas, kasih tugas susah? ._.

Jadi, setelah menarik napas dalam-dalam setiap kali ketakutan itu muncul, aku mempengaruhi otakku. Aku nervous, iya. Tapi itu bukan solusi, kan? Aku-yang-sedang-menyelami-cerita-dalam-buku, kelak, saat waktunya tiba, harus berubah jadi aku-yang-menjadi-pusat-atensi-banyak-kepala.

Lalu, semuanya terjadi.

Waktu itu, semester 6. Hampir semester 7. Di antara itu.

Bulan Juli sampai September, ada kegiatan KKN sekaligus PPL untuk mahasiswa kependidikan di kampus. Itu artinya….

waktuku untuk bicara di depan banyak orang semakin dekat!!!! *ada banyak tanda seru yang sebenarnya waktu itu terpikirkan–ga akan cukup kalau kuturuti tanganku. Ngerti, kan.*

PPL adalah kegiatan praktik setiap mahasiswa kependidikan untuk mengajar. Waktu itu, aku dapat tempat di sebuah SMP di Kabupaten Magelang. Walaupun nantinya aku mengajar Bahasa Inggris yang praktis selalu aku cintai sejak SD, tapi fakta itu ga membantu sama sekali. Ada banyak genderang yang tiba-tiba ditabuh di kepalaku. Berisik. Mendebarkan.

“Miss April, silakan.”

Dengan kalimat itu, si guru Bahasa Inggris memanggilku masuk. Kelas pertama yang aku masuki adalah Kelas 7 B. Itu pertama kalinya aku masuk ke kelas sungguhan untuk bersiap mengajar. Sebelumnya, aku sudah pernah masuk, sih, di sekolah lain (di sebuah SMP di Jogja yang letaknya di depan SMA yang pasti Viny tahu :p). Tapi hanya untuk observasi keperluan mata kuliahku–bukan mengajar.

Waktu aku melihat mata mereka–anak yang duduk paling depan sampai anak yang duduk paling belakang dekat tempat sapu–ada angin yang berembus di telingaku. Kalau aku pengecut, aku pasti sudah lari sejak 3 langkah pertamaku tadi. Kalau aku kelewat takut, mungkin aku akan terus menunduk habis-habisan dan berkeringat.

Tapi, dengan aku yang jadi perhatian semua anak ini, aku tahu aku tidak mau menyerah.

A: Good morning, class! How are you today?

E: Good morning, Mba/Bu *semua orang masih bingung panggil apa. Tertawa satu. Tertawa dua. Tersenyum*

A: Firstly, I think I need to introduce myself to you. My name is April, and you can simply call me Miss April. I am a student of English Education Department in ** University, and I’ll be having a Teaching Practicum here in your class.

E: *bergumam* Miss April…

A: Kalian sudah tahu kan saya mau mengajar apa?

E: Bahasa Inggris!

A: Excellent! Any question, class?

E: Miss asalnya dari mana?

A: Miss asli Cilacap!

Lalu seketika semua ngakak.

Belakangan, aku baru sadar, aku jawab pertanyaan terakhir dengan aksen asli Cilacap.

Ya ga papa sih. Aksen dan dialek asli, kan seksi! :p

Tapi, dari hari itu, aku merasa baik-baik saja. Walaupun aku tahu aku takut setengah mati di awal, tapi semuanya berakhir baik-baik saja. Saat itu, setiap kali mau ngajar dan aku mulai takut lagi, aku ingat kata-kata ini:

Do one thing everyday that scares you.” – Eleanor Roosevelt.

Dan hari pertama perkenalan yang (tadinya) menakutkan itu, sudah jadi satu kali bingo buatku.

==============================================

Kelas 7 B kelas paling kocak.

Kalau kamu berdiri di depan mereka, kamu bisa jadi guru yang paling mereka dengar, atau bahkan paling mereka tidak dengar–semuanya ga bisa ditebak. Muridnya cuma 32, tapi rasanya kayak bersiap-siap ngasih makan anak-anak se-RT. Kalau berisik, siapkan volume terbesarmu–atau bahkan dengan tepukan penghapus papan tulis. Kalau mereka diam, kamu juga yang harus pusing memancing suara setidaknya keluar walau hanya diawali dengan, “Mungkin…”.

Aku ingat saat itu masuk 7 B untuk belajar spelling. Dengan semangat, aku bahkan masuk lebih awal dan mencari video paling lucu yang mungkin mereka suka. Video ini disertai lagu. Tahu kan, lagu apa?

Bingo.

Reaksinya bagus, menyenangkan! Sebentar saja, mereka bisa menyanyi dengan kompak (There was a farmer had a dog and Bingo was his name o…). Mereka menepuk tangan setiap kali huruf yang harusnya tidak dieja mendapat giliran irama. Semuanya tertawa.

Sampai tiba-tiba….

Miss, Bingo-nya JKT48, dong.

Hah!

Kukira aku sudah menyimpan rapat semua identitasku sebagai penikmat musik JKT48. Kenapa harus disebut? Dalam dua detik, semua kepala mengangguk.

Rupanya, 95% siswa kelas 7B pencinta JKT48.

“Miss, please, Miss..”

“Miss, ada videonya kan? Itu kelihatan loh.”

B o d o h.

Folderku berantakan–tentu saja. Saat lagu Bingo tadi selesai, tampilan layar kembali ke susunan folderku yang payah. DI luar, di paling atas, jelas sekali ada file konser JKT48.

Kelas ramai. Semuanya menatap penuh minat.

Hahahaha lucu sekali sebenarnya. Serius!

Tapi, akhirnya, semua berakhir dengan nego. Kuminta dulu semua belajar dengan tenang. Semua mengatupkan bibir tanpa protes. Semua mendengarkanku, yang sebenarnya pembicara yang payah. Ini menakutkan–meminta orang lain menuruti kata-kataku–tapi, hey, aku bisa melakukannya! Aku melakukan hal yang aku takuti dan aku berhasil!

Dua bingo, kurasa.

Setelah itu, setelah semua berjalan dengan lancar, kupastikan masih ada waktu. Kelas 7B ada di pojok. Tidak ada yang akan repot-repot lari ke sini hanya untuk melongok. Dengan kedipan rahasia, kutekan play di laptop, lalu memunculkan potongan penampilan JKT48–menyanyikan lagu Bingo.

inyibingo

Aku tertawa: nyaris semuanya menyanyi berbisik-bisik!

Mereka melihat dan mendengar lagu sambil kuawasi. Semua senang. Anak-anak SMP yang senang. Semuanya mendengar. Bahkan setelah lagu selesai, mereka bisa menyebut kata-kata yang mereka dengar dan melanjutkan spelling kata-kata tersebut dalam Bahasa Inggris, sampai bel benar-benar mengakhiri kelas kami.

blur

==============================================

Setelah PPL selesai, aku malah kangen ngajar. Lucu, ya? Awalnya takut, sekarang malah rindu…

Kalau Viny… punya pengalaman gini ga ya?

– r i –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s