#DearViny: #AkuLanjutinYa

Standard

#DearViny adalah kategori khusus untuk setiap post di blog ini yang ditulis dan ditujukan untuk dibaca Viny.

Surat pertama untuk Viny, berjudul Dear, Viny. bisa dilihat di sini. Postingan awal yang memulai tagar #DearViny di blog ini ada di sini.

==============================================

Dear, Viny.

Merupakan hal yang mengejutkan dan menyenangkan banget waktu tau kalau kamu akhirnya bikin tantangan menulis. Ini Viny banget!–hal yang memang diperkirakan bakal dimulai oleh Viny.

Jadi inilah cerita lanjutan versiku. Mengetahui kalau cerita ini bakal dibaca Viny adalah hal yang menakjubkan. Semoga suka, ya Ratu.


[Supaya lebih nyambung, silakan baca cerita awalnya di sini.]

Sambungan cerita dimulai… #AkuLanjutinYa

==============================================

How I love the way you move, and the sparkle in your eyes…

There’s a color deep inside them, like a blue suburban sky…

Lagu Warrant yang terdengar secara misterius itu masih mengalun. Aku diam-diam menatap matanya yang cemerlang.

Kenapa warnanya coklat sekaligus penuh warna lain yang memesona?

Dan yang lebih penting, bagaimana bisa seorang manusia merasa sangat  ingin memeluk manusia lain seperti ini?

“Yuk, kita mulai saja,” katanya, tiba-tiba. Hmm.. jadi dia sudah selesai bernyanyi? batinku geli.

 

Pukul 3 sore, di hari yang sama, di hadapan secangkir kopi

Aku masih ingat minggu lalu adalah acara angkatan sekolahku. Entah siapa yang mengusulkan, tapi kami semua mengadakan acara di pantai kota.

Bahkan dengan seragamnya yang dikenakan kali terakhir hari itu, dia masih menjadi satu-satunya orang yang membuatku menoleh.

Oh, ya. Omong-omong, dia sudah pulang sedari tadi. Kami hanya bertemu sebentar.

Dan tidak terlalu banyak bicara.

Tapi aku tidak keberatan. Duduk satu meja dengannya adalah kesempatan yang telah lama sekali aku bayangkan. Ditambah lagi, dia tersenyum lebih dari 3 kali kepadaku.

Bukankah aku orang yang paling bahagia sedunia?

Ah…

Aku jadi ingat saat itu, saat mendebarkan sekaligus memalukan.

Ingat acara kelulusan angkatanku di pantai yang tadi kusebut? Dengan segenap hati, aku menyapanya. Menembus celah mentari. Otakku berputar mencari bahan obrolan.

Lalu memutuskan untuk memuji pakaiannya.

“Bajumu bagus.”

Saat kalimat itu keluar, aku baru sadar: ia memakai seragam sekolahnya.

Bodoh.

Bisakah aku lebih bodoh lagi?

Denting sendok yang berputar asal di cangkirku seirama dengan tawa geli di kepalaku.

Tapi—hey, selalu ada saat di mana kita tak bisa bicara di depan seseorang, kan?

“Terima kasih, tapi ini hanya seragam yang seperti biasanya.”

Dia menjawab heran. Ingin tertawa, aku tahu. Sungguh baik sekali ia tidak melakukannya.

Atau mungkin ia tahu aku sangat berdebar?

“Kurasa… Begini…”

Aku melihat uap keluar dari cangkirku. Memejamkan mata, aku terus memutar kenangan minggu lalu dengannya.

“Sebenarnya ini aneh. Tapi, ada kafe baru di dekat sekolah. Apakah kau keberatan mampir ke sana besok?”

Dia terkejut. Aku tidak menyalahkannya.

“Aku akan membantumu soal essay yang sedang kau kerjakan.”

 

Pukul 10 pagi, di hari yang lain. Di atas hamparan pasir putih…

dan ombak.

“Aku masih tidak mengerti jawabanmu waktu itu. Soal kau tahu tentang aku yang sedang menulis essay.”

Aku mengedikkan bahu seadanya. Suara ombak terdengar di sela-sela napas.

“Di daftar pengumuman,” kataku, “ada 10 murid sekolah kita yang lolos seleksi pertama universitas di Jogja.”

Mataku menatapnya. “Salah satunya kamu.”

“Ah, benar, benar… Di sana ada penjelasan kalau syarat yang harus ditempuh selanjutnya adalah menulis essay tentang diri sendiri sepanjang 10.000 kata,” sahutnya sembari mengangguk.

Aku tersenyum.

Sebenarnya itu hanya setengahnya benar. Aku selalu diam-diam mencarinya saat istirahat. Apa kau mengira aku tidak akan tahu apa yang sedang dia hadapi?

Maaf, tapi dahagaku akan senyumnya membuatku selalu mencari tahu.

“Tapi aku senang kau tiba-tiba datang menawariku bantuan. Terima kasih.”

Dia tersenyum. Yang kesekian kalinya untukku.

Ya Tuhan, perasaan ini semakin meluap-luap. Apakah harus kuungkapkan saja?

“Lagipula kudengar kamu penulis yang cukup berbakat. Kolom opini dan cerita pendek di majalah sekolah… itu tanggung jawabmu, kan?”

Aku mengangguk. Berpura-pura tuli pada bunyi jantung yang memekakkan organ tubuh.

“Kalau begitu, aku benar-benar beruntung. Kurasa kau tidak keberatan untuk datang malam ini ke rumahku? Perayaan persahabatan kita?”

Deg. Rasanya ombak yang baru saja mencium telapak kakiku lebih dingin dari sebelumnya.

Perayaan persahabatan.

Padahal, aku sudah belajar mengenalnya sedikit demi sedikit hari itu. Aku mendengar ceritanya. Aku membaca tulisannya. Aku membiarkan ia bergerak untuk memudahkanku menciptakan rangkaian kata yang pas pada essay tentang dirinya.

Kurasa itu tidak mengubah apapun terlalu banyak, huh?

Bodoh, cepat-cepat aku menyadarkan diriku sendiri.

Memangnya aku mengharapkan apalagi? Toh aku tidak jatuh cinta.

Iya, kan?

“Tentu saja,” jawabku pada detik kelima.

Dia terkikik. Lebih dari sekedar senyuman. Tubuhnya mendekat ke arahku.

Merangkulku.

Tepi roknya menyentuh batas akhir rokku juga. Rok yang sama. Sekali lagi hari itu, kami sepakat mengenakan seragam kesukaan dari sekolah kami yang khusus perempuan.

Seragam kami sama.

Walaupun ternyata perasaan kami jelas berbeda.

Tahu-tahu aku mendengarnya lagi. Lagu Warrant.

I don’t know what to do

but I’m never giving up on you…

Seseorang baru saja lewat sambil bernyanyi asal-asalan. Sial, kerongkonganku tercekat.

“Aku suka lagu itu. Kau suka?”

Heaven isn't too far away, is it?

Heaven isn’t too far away, is it?

Dia tersenyum—senyum yang sama yang selalu membuatku terpikat.

Aku tidak sempat menjawabnya. Otakku terlalu sibuk berpikir tentang obsesiku pada senyumnya dan keinginanku memeluknya.

Tapi, apakah…

Apakah ini tak boleh?


– r i –

Advertisements

#DearViny: Viny, Vidi, Vici

Standard

#DearViny adalah kategori khusus untuk setiap post di blog ini yang ditulis dan ditujukan untuk dibaca Viny.

Surat pertama untuk Viny, berjudul Dear, Viny. bisa dilihat di sini. Postingan awal yang memulai tagar #DearViny di blog ini ada di sini.

==============================================

Dear, Viny.

To tell the truth, I was planning to write a post with this title, right before you favorited a tweet of Sinka’s. Look. What a super coincidence, huh?

Veni, Vidi, Vici

Veni, Vidi, Vici

Jadi, sekitar tahun 47 Sebelum Masehi, Julius Caesar berperang melawan Pharnaces II dari Kerajaan Pontus. Perang ini menjadi titik karir militer Caesar, karena berhasil menjadi pemenang. 150 tahun setelah pertempuran, Plutarch menulis bahwa Julius Caesar menggunakan kalimat Veni, Vidi, Vici untuk menegaskan kemenangannya.

Artinya, aku datang, aku lihat, aku menang.

Banyak yang salah kaprah menuliskannya jadi Vini, Vidi, Vici. Kalau diubah jadi Vini, jangan salahin aku jadi ingetnya Viny. Hehe. Tapi, bagaimanapun juga, kalimat ini memang jadi menarik kalau Viny pahami.

Saat Viny datang ke JKT48, belum semua orang tahu Viny. Aku juga belum. Aku, dengan sadar hati, tentu tau kalau aku masih mendukung member lain, yang selalu aku sebut sebagai inspirasiku.

Saat Viny datang ke JKT48, belum semua orang tau kalau sebenarnya Viny juga punya banyak mimpi.

Kamu datang dari formulir ini!

Kamu datang dari formulir ini!

Lalu mulai mendekati berpasang-pasang mata.

Lalu mulai mendekati berpasang-pasang mata.

Pelan-pelan, Viny dilihat, tentu saja. Viny juga melihat–belajar.

Prosesmu berkembang yang diikuti sekian banyak orang, bukankah itu menyenangkanmu?

Maka, bersyukurlah dengan nomor 7 ini. Angka itu bukan berarti “yah belum bisa jadi center”, tapi berharga jauh lebih banyak.

Angka 7 ini adalah usaha barisan pendukungmu, doa yang dikirimkan dari jauh, usaha keras yang dilakukan bersama-sama, harapan yang ditumpukan di bahu kamu, kepercayaan pada kamu untuk menunjukkan pada semua orang…. kamu-lah ratunya.

Her Majesty Ratu Vienny Fitrilya

Her Majesty Ratu Vienny Fitrilya

Angka 7, buat aku-pun spesial. Aku penikmat tulisan J.K. Rowling, khususnya Harry Potter. Sebagai Potterhead, angka 7 berarti banyak loh.

7 seri.

7 Weasleys.

7 tahun sekolah di Hogwarts.

7 Potter di hari dia akan pergi dari Privet Drive.

Dan… banyak! Kalau penasaran, baca di sini.

Itu baru sebatas Potterhead, Vin. Sebagai Potterhead plus pendukung kamu, angka 7 tentu bertambah maknanya.

Karena angka 7 dan Viny sekarang adalah hal yang menakjubkan.

Lucky Seven. Viny deserves it!

Lucky Seven. Viny deserves it!

Karena sekarang semua orang tau Viny punya banyak mimpi dan (seperti yang selalu Viny bilang) sekaligus bukan satu-satunya pemimpi di JKT48, what about stepping closer and closer to our dreams then, after showing them to the world?

Karena, dengan optimisme dan kebahagiaan yang positif, semuanya bisa menjadi mantra pendorong terbesar.

Ratu Vienny Fitrilya, S E L A M A T !

==============================================

PS: Kamu di posisi 7, jelas-jelas mengingatkanku pada sumber inspirasi yang aku dukung sebelum kamu.

Inspirasinya bernama Rica Leyona

Inspirasinya bernama Rica Leyona

Seperti kebetulan, ya? Tapi aku harap kamu juga akan tetap maju dengan mimpimu, menebar keajaiban mimpi pada siapapun.

Mau, kan?

– r i –