#DearViny: Pilihanmu

Standard

#DearViny adalah kategori khusus untuk setiap post di blog ini yang ditulis dan ditujukan untuk dibaca Viny.

Surat pertama untuk Viny, berjudul Dear, Viny. bisa dilihat di sini. Postingan awal yang memulai tagar #DearViny di blog ini ada di sini.

==============================================

Dear, Viny.

Gimana puasanya? Udah buka kan?

Wkwk. Ya iya lah, udah jam segini juga. Sekarang, duduk ya. I’ll let you read this.

Take your time, Vin.


Jadi, semuanya dimulai dari kamu. Suatu hari, kamu kasih tantangan menulis seperti yang kamu tulis di sini. Singkatnya, hari ini baru kamu kasih tau semua orang soal cerita pilihan kamu.

Cerita pilihanmu itu..

Punya aku!

Punya aku!

“…. pilihanku dari Ri.”

Iya.

Aku.

Ceritaku yang ini.

And I was like…

Oh ya ampun, Viny main ke blog aku!

Hehe.

Maaf norak. Tapi aslinya, tadi aku kaget. Seriusan. Bukan cuma karena kamu pilih, tapi karena tadi aku sempet mau reply tweet kamu sebelum itu.

Aku, tadi udah nulis ini di TweetCaster-ku…

Select all >> Cut >> Terus nulis reply baru yang lain...

Select all >> Cut >> Terus nulis reply baru yang lain…

…tapi, ga jadi di-tweet.

Terus, bengong lagi deh. Mikirin mau ngapain. Mikirin Harry Potter. Mikirin skri——–disensor.

Tapi, tau-tau tweet kamu lagi-lagi bikin alisku naik, terkejut.

You gave the link and you said,

… buat nemenin buka pilihanku dari Ri 🙂

Like, seriously.

Kebetulan yang lain kan?


Jadi akhirnya cerita lanjutan versiku sekarang masuk di blog kamu. Penghargaan yang menyenangkan, kukira. Kamu, bagaimanapun, udah kasih semangatku nulis dengan caramu sendiri.

Karena aku sangat suka menulis, jadi… terimakasih, ya.

Walaupun hanya sebatas blog, tapi dengan adanya kamu yang memulai cerita itu, at least I took my time to write it back then.

And I enjoyed it.

Tapi, setelah tulisan itu pun, ada beberapa yang bertanya-tanya. Kenapa tulisan itu? Kenapa temanya begitu?

Di beberapa sudut, beberapa orang bahkan mungkin mengaitkannya dengan topik hangat sekarang: #LoveWins.

Ceritaku, walaupun hanya cerita, memang kisahnya tentang si “aku” yang menyukai seorang perempuan ini. Dari awal, dengan asumsi kamu tidak menyebutkan gender tokoh di cerita awalmu, maka aku punya caraku sendiri untuk membuat twist. 

Semuanya terbalik, tidak seperti yang diharapkan semua orang.

Itu kebiasaanku.

Atau lebih tepatnya, itu cara kesukaanku menulis cerita.

I’ve been writing short stories as a hobby since I was 9. Bahkan sejak itu pun, aku menikmati menulis cerita yang bikin pembacanya bilang, “Ya ampun, ternyata….” atau “Aku ga nyangka.”

As an (amateur) writer, itu kepuasanku.

Walaupun aku juga sering nulis cerita yang “normal”, sih.

Sedikit dari sekian cerita sih. Hahaha.

Sedikit dari sekian cerita sih. Hahaha.

Gambar di atas belum semua. Tapi itu gambaran dari folder tulisanku di laptop. Beberapa dari tulisan itu udah dikirim ke majalah atau diikutin lomba, tapi ga sedikit yang kurang beruntung hahaha…

Padahal kalau ada yang masuk, mungkin bisa buat contoh cerita plot twist lagi, haha. Ada yang sempet masuk majalah HAI (April awal, 2014). Tapi itu cerita yang ga aneh-aneh kok. Hehehe. Ceritanya tentang seorang cowok yang sedang terlalu “masuk” ke fandom idol group sampai melupakan kekasihnya~~

Eaaa. Malah promosi.

Maaf.

Ehm. Well..

Mungkin karena topik #LoveWins sedang hangat dan kebetulan ceritaku “tidak umum”, muncul banyak pertanyaan. Walaupun sebenernya bagi beberapa orang, ada banyak fanfict yang temanya gitu juga, ya. Hahaha.

Tapi, untuk banyak alasan, aku menyetujui pendapat kamu.

Aku juga.

Aku juga.

Tidak mendukung. Sesimpel ini.

Tidak mendukung. Aku sendiri bukan tokoh dalam ceritaku.

Hey, I have my boyfriend–and he, I’m sure, is not a girl.


Bagaimanapun, cerita adalah cerita, kan?

Semua orang bisa bercerita, menceritakan apapun yang ada di kepalanya. Tulisan-tulisan memang meluapkan perasaan penulisnya, kadang. Tapi penulis akan selalu bisa berseluncur di dunianya sendiri, dengan kata-kata dan alur yang ia pilih.

Semua orang bisa memunculkan dunia khayalan yang mereka pilih,

lalu menggantinya dengan dunia yang lain yang juga mereka pilih.

Bukankah begitu?


PS: Ini link post di blog Viny dengan ceritaku.

– r i –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s