#DearViny: Yang Baru

Standard

#DearViny adalah kategori khusus untuk setiap post di blog ini yang ditulis dan ditujukan untuk dibaca Viny.

Surat pertama untuk Viny, berjudul Dear, Viny. bisa dilihat di sini. Postingan awal yang memulai tagar #DearViny di blog ini ada di sini.

==============================================

Dear, Viny.

Pertama-tama, mohon maaf lahir dan batin ya. Hahaha!

Ini adalah #DearViny pertama setelah lebaran. Had a lot of fun, huh? Cerita Viny waktu lagi mudik gimana? Seru? Sampai akhirnya sekarang udah balik ke theater lagi….

…you’ve had a sweet escape, right? 😉


Sebenernya, ada cerita-cerita yang tadinya dilipat rapi di kepala, sampai tiba waktunya dikonversi jadi edisi baru yang bisa kamu baca. Tapi nyatanya: liburan, waktu yang tersia-sia, dan semua kegiatan-kegiatan sepele, pada akhirnya merampas separuhnya.

Aku lupa.

Hehe.

Lupa, pada urutan yang bagaimana aku merencanakan #DearViny yang ini ditulis. Tapi bagaimanapun, seorang penulis tidak akan menyerah bercerita lewat kata-kata, kan, Vin? 😉

Aku inget, awal liburan yang si kamunya lagi mau mudik. Mungkin, waktu kamu lagi di Bandara, aku masih tidur di kotaku. Sedangkan, ada seorang asing yang menuju rumahku.

Dunia ini, walaupun kita punya hidup sendiri, orang-orang lain juga ikut bergerak, kan?

Jadi, dari tiga kejadian itu, tau-tau ada suara ayahku. Ayahku besar, tapi ia juga memberiku bungkusan besar, setelah aku bangun. Bungkusan itu, katanya, diantar oleh si orang asing.

Oh, ternyata dia seorang kurir jasa pengiriman.

Dengan sobekan di sana-sini, setumpuk buku menghela nafas bebas di hadapanku.

Kamu tahu buku siapa itu?

Bukuku!

Aku menulis!

Aku menulis!

Saat itu, kamu mungkin sudah masuk ruang tunggu bandara.

Sementara, pikiranku melayang kemana-mana. Buku-buku ini adalah kiriman dari sebuah penerbit. Penerbit indie di Bandung. Penerbit indie yang aku percayakan untuk membukukan naskahku menjadi novel.

Kenapa indie? Karena ada beberapa pertimbangan, yang… Ah, sudahlah.

Saat itu aku ambil satu. Berharap kamu ikut mencium bau halaman buku baru. Bahkan… mungkin membacanya?

Tapi, bagaimana caranya? Iya, ‘kan?

Tiba-tiba, handphone-ku berkedip. Kamu bicara di twitter. Kamu, yang masih ada di ruang tunggu bandara di lain kota.

Kamu juga menyebut novel. Yang lantas membuatku berdegup, lalu segera me-reply dengan randomnya. Haha.

Novel yang berbeda, tapi entah kenapa berdebar.

Novel yang berbeda, tapi entah kenapa berdebar.

Novelku saat itu masih di tanganku. Tangan yang satunya, sementara itu, baru selesai me-reply kamu. Untuk beberapa alasan, itu 16 Juli yang paling bikin-senyum-senyum-sendiri untukku.


Setelah tumpukan novel yang datang itu pun, aku jadi sibuk inget-inget siapa aja temen aku yang udah pesen bukuku duluan. Semacem pre-order ya, Sis (anak online shop banget).

Karena ini penerbit indie, jadi aku-lah yang harus aktif. Apalagi, ini bukuku sendiri. Ini awalku.

Selama beberapa waktu, ada angka 1 Agustus di kepalaku. Tiba-tiba. Itu waktu untuk setlist baru kamu dan tim K3sayangan, kan?

Sambil aku muterin Cilacap nganterin buku pesenan temen-temen waktu itu, aku tau. Mungkin, sebelum dan setelah liburan ini pun kamu-lah yang aktif. 

Maksudku, latihan. 

JKT48 memang bukan penerbit indie. Para membernya juga bukan sekedar “buku terbitan”. Tapi kalau diibaratkan, semua member-lah yang bertanggung jawab atas dirinya. JKT48 ada sebagai payung kalian–termasuk Viny. Untuk membuat kalian dikenal (dalam kasus bukuku: “untuk menjual buku”), kalian-lah yang seharusnya juga bergerak.

Viny juga.

Setlist ini… setlist yang sudah lama kamu tunggu-tunggu, kan?

Buku ini juga buku yang sudah lama aku tunggu-tunggu untuk selesai dan terbit.

Kalau dianalogikan, mungkin…

“1 Agustus”-ku sudah datang dalam bentuk buku pertama yang aku tulis. Sedangkan, “1 Agustus”-nya Viny akan datang segera, di hari di mana Viny disinari di atas stage dengan lagu yang baru.

Persamaannya adalah,

… bukuku dan setlistmu, semuanya menjadi awal “yang baru” untuk kita masing-masing.

Walaupun perjalanan ke “awal yang baru” ini lumayan menguras emosi (somehow, your g+ post told us), saat nantinya kita berdiri di garis start, kita akan segera tau untuk apa kita bersedia berlari.

Bukankah berlari ke arah mimpi menjadi hal paling realistis yang dilakukan orang-orang?

Apalagi, kita sudah sama-sama menunjukkan mimpi kita, kan?


Ratu, semangat! Whatever will be, will be.

– r i –

PS: I still wish I can give you a copy of my book one day. Soon, maybe?

I mean… Jogja on August? Please?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s