#DearViny: Jogja.

Standard

#DearViny adalah kategori khusus untuk setiap post di blog ini yang ditulis dan ditujukan untuk dibaca Viny.

Surat pertama untuk Viny, berjudul Dear, Viny. bisa dilihat di sini. Postingan awal yang memulai tagar #DearViny di blog ini ada di sini.

==============================================

Dear, Viny.

Tell me how it feels to finally celebrate your 300th show and hold #K3sungguhan with the team?

Pasti jadi jadwal super hectic buat kamu. Lagu ini, lagu itu. Koreo ini, koreo itu. Latihan. Waktu yang singkat tapi terasa sedikit lebih lama, ya?

Tapi pada akhirnya, you did it.

Selamat, ya! Walaupun (tetep), kata ‘selamat’ itu ga bisa diucapkan langsung, tapi sebuah perkataan tulus selalu bisa disampaikan, kan? 😀


Jadi, hari ini aku balik ke Jogja–kota perantauanku sejak 4 taun lalu, sekaligus ‘rumah’ kedua setelah Cilacap. Perjalanan semestinya cuma 5 jam, tapi molor gara-gara nungguin shuttle yang super lama.

Waktu masuk Jogja, belum ada perasaan apa-apa. Begitu sampai, dijemput Mas Hutan *ehehe* dan sampai di kos.

Felt tired padahal di bis kan duduk aja. Ketiduran. Tiba-tiba kebangun dan langsung mikir.

How many days left?

Kedatanganku balik ke Jogja sekarang adalah karena besok Mas Hutan wisuda, dan 10 hari kemudian aku yang gantian pakai toga. Setelah itu kita akan pulang (literally) dan melanjutkan hidup di tahap yang bener-bener berbeda: bukan mahasiswa.

Seandainya kelulusan itu semudah kita mencari-cari tiket pesawat secara impulsif dan kebeli dan mendarat di kota yang kita mau, aku tidak akan berpikir sekeras ini. Tapi bagaimana jika nyatanya kelulusan adalah kemungkinan terbesar kita harus berpisah dengan kota ini?

Jadi tiba-tiba tadi aku berdiri dari kasur, dandan seadanya, ambil kunci motor, dan let myself go around Jogja.

Aku bukan tipe orang yang suka main setiap hari, tapi aku juga ga akan terlalu menikmati hari-hari di balik dinding. Sudut-sudut Jogja belum habis kutempuh semua, tapi sebentar lagi ada toga yang dipasang di kepalaku tanda aku sudah sampai di akhir waktu berjuang S1 di sini. Ya, beberapa ruas jalanan Jogja seringkali kulewati, sendiri, ataupun dengan teman. Tapi ada satu tempat yang belum pernah aku kunjungi sendirian.

Malioboro.

Entahlah. Padahal dulu, sebelum kuliah, aku suka membayangkan diriku sendiri duduk di sekitar titik 0 KM sambil memikirkan cerita pendek apa yang seharusnya kutulis. Nyatanya, kebanyakan waktu ke sini adalah siang atau sore hari, dengan ditemani seseorang, atau malah kelompok.

Malioboro, mainstream tapi selalu jadi tempat di mana aku yakin aku sudah sampai di Jogja yang benar.

Jadi dengan absurd-nya, aku cuma bisa berjalan-jalan sejauh kakiku bisa (ps: tadi pagi abis luka kebaret kawat mayan panjang jadi cepet pegel kalo berdiri huhu), menikmati diri sendiri berbicara bahasa Jawa  yang Jogja banget sama ibu-ibu penjual tas anyaman, nyium bau kuda *lah*, ngeliat ini itu… tanpa terbatas waktu.

Lalu pulang ke kos lewat jalan yang nembus-nembus I didn’t even know.

Yet, I did it for some reasons.

Dan aku menikmati escape itu.

Kelulusan tentu saja membahagiakan. Tapi kalau kelulusan berarti aku harus kembali ‘pulang’ dan menjadikan Jogja sebatas ‘luar kota’ lagi, aku belum tau bagaimana rasanya.

Sore itu, Jogja hanya terasa sangat tepat.

Beberapa kali aku pergi sendirian, tapi perjalanan tadi sore entah kenapa rasanya dalem banget.


Kelar ‘kencan’ sama Jogja, aku cuma bisa diem sambil ngeliatin tas anyaman (yes i finally bought that lol). Bagus tasnya!

Dan Jogja-nya.

 

I’m not the only one thinking that way, kan?

 

PS: I just read your blog and am surprised to know you’re here too. Right after this ‘blue’ feeling.  Well… Have a very good Jogja time!

 

– r i –