Setelah 365 Hari

Standard

07 Des.

7 Desember sebelumnya tidak berarti terlalu dalam untuk aku. Hal yang terlintas di kepalaku setiap tanggal 7 Desember adalah judul album Sheila on 7 (07Des) dan fakta bahwa 7 Desember adalah hari ulang taun salah satu sahabatku masa SMA.

Tapi, sejak tahun lalu, maknanya bertambah satu.


Satu tahun yang lalu, ada kenangan menyenangkan yang terlintas sebelum tidur malam. Siang harinya pada waktu itu, aku datang ke tempat yang dikerumuni orang (kebanyakan laki-laki) dengan suara musik ceria yang menghentak.

Aku masih ingat.

“Periksa tasnya, jangan bawa makan minum ke dalem.”

“Woi jangan nyelip, antri!”

“Kok belom open gate, ya?”

“Li, kok itu….om-om?”

Hahaha.

Kalimat terakhir itu kalimat dari kakakku. I mentioned about her when I met you that day. Remember?

Kalau kita tarik lagi waktunya ke hari sebelum itu, aku juga masih ingat. Naik kereta dari Jogja. Nungguin kakak balik kantor di Jatinegara. Nervous sampe malem sebelum tanggal 7… Kenapa?

Because that day was… the day.


 

Do you remember how we met?

Masuknya sederhana. Selesai antri open gate, langsung masuk antrian, ambil CD single (karena belinya online). Karena open gate-nya mundur, waktu sesi 1 HS udah lumayan ‘kemakan’. Akhirnya mau langsung masuk buat HS aja.

And we were at the same place, finally.

Setelah registrasi dan dibolehin masuk ke area HS, I was both shocked and confused. Iya, aku ga pernah ikut HS Festival, so things were new for me. Many people. Not too crowded yet, but everything was so new and exciting.

Ada member-member. Tapi, I didn’t even see their faces. Aku cuma liat nama mereka: Melody, Viny, Lidya….

Dan di situlah kamu.

Setelah buru-buru berjalan mencari nama dua kata yang jadi alasan aku berkereta ke sana, aku mendekati biliknya.

I saw you.

Dan begitu saja rasanya.

Bukan kupu-kupu di perut. Bukan debaran aneh seperti jatuh cinta.

Hanya perasaan yang bisa kamu rasakan ketika bertemu seseorang yang kamu harap bisa ada di depanmu secara langsung.

ricalulus.jpg

Di depanku ada seorang laki-laki yang antri, dan seorang lagi yang sedang HS sama kamu, kan, Teh? Waktu itu, aku pengen mundur. Hahaha. Asa belum siap. Tapi ya gimana, si kakak kan udah nunggu di luar…

Akhirnya antriin aja. Si laki-laki paling depan udah selese, lanjut ke laki-laki kedua buat HS. Aku maju.

That was crazy. I was going to meet you! You, whom I always adore. Meeting the person whom you adore isn’t easy, man. You’ll keep wondering if that’s real or not, you’ll keep asking why you are even there, asking if this is the right thing to do, if you’ve got enough nerve to meet that person…

Masih ingat? Aku masih. I wrote every single thing here.


 

Setelah kamu grad, Teh, I decided to stop. Seperti yang aku bilang waktu HS, aku mau fokus kuliah aja. Nyatanya, laporan, magang, laporan lagi, proposal, bimbingan… semuanya nyita waktu, ya. Aku menikmati. Seperti kamu yang juga menikmati kelulusan itu.

(here, you may insert all of your happy memories after the graduation)

Butuh waktu 4 bulan sampai aku punya oshi baru lagi, in the group (lol yes, I thought I would never come back, but it was kinda addictive), dan jarang buka akun translate-an karena revisi numpuk.

Screenshot_2015-12-07-22-52-30.png

Teteh sempet bilang, “Ri, semangat skripsinya, ya! Aku doain Ri lulus skripsinya.”, berdasarkan request aku di zeemi hahaha!

Tapi ga papa, kan?

Soalnya, saat itu, aku lagi berupaya meniru kostum yang kamu pakai di HS terakhir.

rica toga.jpg

TOGA.

Dan,

coba tebak?

I did it.

IMG-20151128-WA0016.jpg

You’re prettier, but at least I’m wearing toga in this photo :p


 

Dalam 365 hari, banyak hal yang terjadi.

Kamu, Teh, punya channel di Zeemi, MnG ke Jepang, lelang amal, buka bersama, diliput di TV, sampai yang terakhir kemarin MnG di Bandung.

Aku juga.

Bab 1, bab 2, bab 3, bab 4, bab 5 , sedih ditinggal dosen pembimbing ke Belanda, sidang skripsi tanpa beliau, dan lain-lain.

You lived your life, I lived mine.

Selama ini, selama kamu masih di JKT48, aku selalu lihat kamu. Sejauh apapun jaraknya, selalu ada waktu yang menyela hanya sekedar untuk membaca tweet.

Sekarang, sekali lagi, selamat atas kebebasan kamu untuk memilih jalan mana yang kamu mau untuk karirmu. I may not always be there to reply every tweet of yours, or to watch your live streaming, or to come to your events,

but I’m still here.


 

Teh Rica, coba ingat-ingat dengan baik waktu kita HS.

Ada saatnya aku bilang “Terima kasih”, kan? Ada juga saatnya kamu peluk aku, kan?

Sekarang, coba tutup mata, terus inget lagi caraku bilang “terima kasih” waktu itu, dan caramu memeluk.

Karena, dua hal itu yang sekarang paling ingin aku kirim untuk kamu.

Terima kasih, Rica Leyona! ❤

 

 

– Ri –