#DearViny: Bisa.

Standard

 

#DearViny adalah kategori khusus untuk setiap post di blog ini yang ditulis dan ditujukan untuk dibaca Viny.

Surat pertama untuk Viny, berjudul Dear, Viny. bisa dilihat di sini. Postingan awal yang memulai tagar #DearViny di blog ini ada di sini.

==============================================

Dear, Viny.

I’m really writing this right now. Hehe. Maaf ketunda-tunda, karena …

well, let me let you read this post aja, ya 🙂


Jogja, 15 April 2016

Hari itu, aku berangkat jam 2 pagi ke Jogja demi mendekati mimpi. Seperti yang kamu bilang: #KitaBisa, kan? Jadi, walaupun bis malem itu ngebut dan sedikit goyang mengkhawatirkan, aku tetap duduk di kursiku sambil berdebar-debar.

Padahal kemarinnya, aku masih di Cilacap, bertemu anak-anak kecil kelas 1 SD yang juga menjadi mimpiku.

20160420_123107

You know what? Susah banget motoin anak-anak di kelas saking aktifnya. Foto plang kelas aja kali, ya. Haha.

 

Sekolah ini, 12 tahun yang lalu, telah selesai membesarkanku selama 6 tahun. Saat aku kembali ke sana tahun ini, guru-gurunya berkata sedikit geli dan penuh kasih sayang,

“Anak-anak, Miss ini muridnya Ibu waktu dulu.”

Walaupun sudah bertemu keriangan dari sekian banyak anak-anak yang mengekoriku sambil berlarian berusaha kabur main ayunan, aku tidak ingin melemparkan alasan apapun untuk keputusanku berangkat ke Jogja. Yang aku pahami, aku mempunyai kesempatan sekali lagi untuk mengejar keinginanku sedari dulu.

Kali ini, aku tidak akan menyerah.

efi

Kenalkan: Andalanku!

Jadi,

hari itu, aku sampai di Jogja yang sama-sama kita cintai. Sudutnya berbeda dengan kenanganku kuliah selama 4 tahun kemarin. Tapi, aromanya sama.

Aroma kebahagiaan.

Hari itu adalah interview pertama dengan HRDAku hanya mengernyit sedikit karena merasa super grogi–kenapa aku tidak mempersiapkan apapun?!

Ketika ada seorang laki-laki datang dan memintaku masuk untuk memulai interview, aku hanya merasa bahwa aku akan menjawab apapun dengan sejujurnya.

Bagaimanapun, pekerjaan ini adalah mimpiku.

“Siang, Mba. Namanya siapa?” tanya si HRD.

==============================================

Sudah 12 hari yang lalu.

Dua belas hari yang lalu adalah hari di mana aku memutuskan memulai pengejaran ini. Beberapa hari setelahnya, teleponku berdering; memberiku kabar untuk datang lagi ke Jogja.

Tapi, sebahagia apapun kita, pasti, selalu ada yang kita korbankan, kan?

20160420_123118

Untuk tidak lagi bertemu tawa dan teriakan berisik rombongan anak SD itu adalah keputusan yang cukup berat, sebenarnya.

==============================================

Ada hari di mana kita harus memilih.

Untuk bertemu keceriaan dari mereka yang berseragam putih-merah atau untuk menciptakan keceriaan lewat kata-kata di kota impian?

Aku hampir habis akal untuk memilih. Tapi, tahu-tahu akhirnya, aku bersalaman dengan seorang wanita di kantor itu.

Di Jogja.

Katanya,

“Selamat bergabung bersama kami.”

20160425_133629

Let me say it clearly: An. Editor. Yes. Me!!!

==============================================

Suatu hari aku menunggu keputusan yang lain.

Jogja City Mall.

Ada banyak sekali orang di sana–kebanyakan laki-laki, dan ada pula perempuan yang usianya mungkin lebih muda dariku.

Dan… aku ngapain, sih?

20160424_130602

Kok ngantri, ya?

Kakiku ragu-ragu: maju atau mundur?

Sedikit geli, tadinya berusaha mati-matian menunduk. Siapa tahu, ada temen jaman kuliah yang lewat. Ehh… beneran. Ketauan deh woti (?).

Pokoknya, setelah beberapa langkah yang terasa seperti jarak Cilacap-Jogja, aku masuk…

bertemu kamu.

“Halo, namanya siapa?”

“Ri.”

Matamu membulat, aku masih ingat. Kamu menepuk telapakmu sendiri dengan telapakmu yang lain. Hahaha.

Untuk semua yang kamu katakan, terima kasih, ya!

Kegembiraan penulis, kamu tahu? Saat ada yang bilang bahwa mereka membaca kami.

Aku sadar aku sekaku kawat saat itu. Entah karena aku terlalu tersipu, atau kamu terlalu baik hati. Yang jelas, aku bahkan tidak repot-repot meminta gaya lain saat kamu mengajakku berpose dengan simbol hati (ya Tuhan, Inyi! wkwkwk). Aku juga tidak ribut-ribut meminta gambar kita jangan diambil dengan aku berada di sisi kiri–you know, that side makes me look bigger wkwkwk (I’ve lost 9kgs, loh, tapi jadi ga keliatan hahaha).

You know–it’s a girl’s things.

Tapi, overall, siang itu aku merasa pilihanku untuk mengantri sampai tuntas sudahlah tepat.

Maksudku, seorang Ratu tak mungkin bisa dilewatkan, bukan?

==============================================

Begini, biar aku ceritakan sedikit.

Tadinya, aku hanya duduk diam ingin menulis untuk kamu. Janjiku untuk membuat tulisan ini sudah berhari-hari lalu–tapi selalu gagal. 

Maaf, ya! Setiap kali ingat bahwa kamu bahkan sudah memintaku langsung untuk menulis, aku tertawa kecil sendirian di kantor (cieee wkwkwk). Padahal, buku yang saat itu aku edit, buku serius. :))

Kenapa aku bisa mendapatkan itu–kenangan sekaligus impian yang jadi nyata? Bertemu kamu setelah resmi menjadi editor?

Karena aku memutuskan untuk bertemu kamu. Karena aku memutuskan untuk menjadi editor.

Di titik ini, aku mengamini segala filosofimu di balik tagline #KitaBisa. Sesuatu yang selama ini hanya di benak kita, tidak menjamin dirinya untuk tidak bisa tercapai.

Ratu Vienny Fitrilya,

terima kasih, ya, sudah mengajak kami untuk tersenyum dan menunjukkan mimpi.

Karena, ternyata, semuanya memang BISA dilakukan!

See you when I see you. Kapan-kapan, ya!

==============================================

PS: Thanks for reading me here and there! Glad to know that you even remember my book’s title… :”) A picture with Luna and Sefone, please? Hehe.

PS (lagi): Sorry for being super nervous! Was too happy. Really.

 

Bye!

– r i –