#DearViny: Memulai Lagi (Menuju 300)

Standard

#DearViny adalah kategori khusus untuk setiap post di blog ini yang ditulis dan ditujukan untuk dibaca Viny.

Surat pertama untuk Viny, berjudul Dear, Viny. bisa dilihat di sini. Postingan awal yang memulai tagar #DearViny di blog ini ada di sini.

==============================================

Dear, Viny.

Been a very long time since the last time I wrote here. Kamu apa kabar?

Very well, I guess?

Well, setelah lama berusaha ga kepo-kepo dulu di Twitter, mulai beberapa hari lalu aku iseng buka-buka Twitter lagi dan ‘ngebaca’ kamu. Surprisingly, ada satu video di Twitter kamu in which kamu ngelus-ngelus si kucing……

Wow. You’re such a brave girl now. LOL :p

Tapi walaupun ujungnya ditinggal, at least kamu membuat perubahan atas diri sendiri ya!

Inyi and the Cat She Touches

Inyi and the Cat She Finally Touches

…dan…

I did the same.

Setelah sekian lama temen-temen ngontak aku dengan kalimat “Boleh minta tolong translate abstrak skripsiku ga?”, aku jadi ingin menyelesaikan skripsiku sendiri. Kan ga lucu, ngelirik folder documents isinya cuma abstrak dari berbagai fakultas semacem Kehutanan, Peternakan, Ekonomi, Teknik, bahkan Kedokteran Gigi…

padahal aku anak Pendidikan Bahasa Inggris.

Sebagian sih... tapi sampe lupa ini file abstrak punya siapa aja.

Sebagian sih… tapi sampe lupa ini file abstrak punya siapa aja.

Dan karena skripsi harus banget direvisi, I decided to make myself fall in love with my own thesis…

..and…

I did it! I mean, I literally did it.

My second 'book'. You've already had my first one, Your Majesty.

My second ‘book’. You’ve already had my first one, Your Majesty.

Iya, pencapaian mahasiswa banget emang.


Kalau bicara soal ‘pencapaian’, deket-deket ini adakah yang mengingatkan kamu akan sesuatu?

Clue: Tiga Ratus. Di dalam ‘tiga ratus’, ada kata RATU *maksa*.

Akhir oktober ini, aku akan ambil undangan yudisium. Sedangkan kamu, sebelum HS Event, mungkin ada perayaan akan sesuatu kan?

Di hari itu, pahami pencapaian kamu. Resapi. Sejauh apa. Seberapa keras. Apa yang sudah dilewati.

Hari itu, seperti orang yang baru melewati ujian skripsi, mungkin kamu akan berdebar lega sekaligus ingin tahu:

di depan sana, ada apa lagi, ya?

Ada apa?

Ada apa?

Ratu, selamat mempersiapkan dirimu sendiri yang akan bersiap-siap melangkah maju! Hal-hal baru akan selalu jadi awal untuk memulai. Perlahan-lahan, tunjukkan terus mimpi kamu ya!

Selamat menempuh mimpi.

– ri –

Advertisements

#DearViny: Balada Menunggu dan Ditunggu

Standard

#DearViny adalah kategori khusus untuk setiap post di blog ini yang ditulis dan ditujukan untuk dibaca Viny.

Surat pertama untuk Viny, berjudul Dear, Viny. bisa dilihat di sini. Postingan awal yang memulai tagar #DearViny di blog ini ada di sini.

==============================================

Dear, Viny.

Ga semua hal itu berjalan dengan lancar dan baik. Ada yang membahagiakan, tapi ada juga momen di mana kamu merasa sedih, kecewa, lelah.

 

Inget kata-kata itu? Itu yang kamu bilang di sini.

Kemarin, sebelum tidur, randomlyI listened to it. Entah kenapa, ada setumpuk sesuatu yang rasanya bikin aku tersekat. Maksudku….

semua orang pernah ngerasain hari di mana segalanya menjadi begitu menyedihkan, kan?


Hari ini, aku baru buka draft di blog. Sebenernya udah nyiapin #DearViny ini dari lama. Tulisannya udah separo.

Tentang penolakan.

Sedih banget ya kesannya? Wkwkw. Yah, pokoknya tadinya di halaman ini, aku udah nulis pengalaman yang menyedihkan gitu rasanya.

Mulai dari nungguin dosen berjam-jam, nungguin revisian skripsi, sampai janji ketemuan sama mas pacar jadi batal padahal kita mau nonton Detective Conan T^T (ehehehe).

But I didn’t post it. Aku memilih untuk menyimpan halaman itu di draft, dan berusaha menghadapi semuanya.

Aku tunggu sampai dosenku datang.

Aku tunggu sampai skripsiku siap direvisi setelah sebulan disimpen dosen.

Aku tunggu sampai mas pacar balik setelah diculik temen-temennya main seharian.

Dan akhirnya?

I got what I want.


 

Malem tadi, aku mau nge-post #DearViny, waktu tiba-tiba kamu nge-post #BlogViny. Ada kutipan kamu yang aku suka banget di sana:

Ya memang seperti itu, semakin terasa realistis semakin kita tidak puas akan sesuatu. Padahal itulah kenyataan.

Menunggu itu sangat realistis. Orang yang sedang kita tunggu mungkin punya alasannya sendiri. Alasan logis, nyatanya. 

Tapi kita akan selalu beranggapan menunggu itu menyebalkan. Iya, kan?

(Eh ini ga bermaksud nyindir kamu karena kita udah nungguin postingan blog terbarumu kok! HAHAHAHA :p)

Pada akhirnya, menunggu itu membuahkan hasil kok! Ngerasain ga?

Ibaratnya, kita punya novel terbaru yang kita ikutin. Tapi sayangnya, kita lupa bawa waktu mau flight ke suatu kota, jadi ga bisa baca :p

Lama. Kecewa. Sedih. 

Tapi pada waktunya, novel itu bisa di ada di tangan kita dan menyihir kita masuk ke dalamnya.

Bukankah itu yang dimisalkan pada perumpamaan ‘senang setelah sedih’?


Ngebaca blog kamu yg ini, jadi tau kalau sebuah novel pun bisa menunggu untuk dibaca.

Semoga novel-novel lain pun akan dapat gilirannya ya, Ratu!

Sedangkan aku, sudah ditunggu bab 1 sampai bab 5 skripsi untuk revisian….

Bye!

 

– ri –

 

#DearViny: Yang Baru

Standard

#DearViny adalah kategori khusus untuk setiap post di blog ini yang ditulis dan ditujukan untuk dibaca Viny.

Surat pertama untuk Viny, berjudul Dear, Viny. bisa dilihat di sini. Postingan awal yang memulai tagar #DearViny di blog ini ada di sini.

==============================================

Dear, Viny.

Pertama-tama, mohon maaf lahir dan batin ya. Hahaha!

Ini adalah #DearViny pertama setelah lebaran. Had a lot of fun, huh? Cerita Viny waktu lagi mudik gimana? Seru? Sampai akhirnya sekarang udah balik ke theater lagi….

…you’ve had a sweet escape, right? 😉


Sebenernya, ada cerita-cerita yang tadinya dilipat rapi di kepala, sampai tiba waktunya dikonversi jadi edisi baru yang bisa kamu baca. Tapi nyatanya: liburan, waktu yang tersia-sia, dan semua kegiatan-kegiatan sepele, pada akhirnya merampas separuhnya.

Aku lupa.

Hehe.

Lupa, pada urutan yang bagaimana aku merencanakan #DearViny yang ini ditulis. Tapi bagaimanapun, seorang penulis tidak akan menyerah bercerita lewat kata-kata, kan, Vin? 😉

Aku inget, awal liburan yang si kamunya lagi mau mudik. Mungkin, waktu kamu lagi di Bandara, aku masih tidur di kotaku. Sedangkan, ada seorang asing yang menuju rumahku.

Dunia ini, walaupun kita punya hidup sendiri, orang-orang lain juga ikut bergerak, kan?

Jadi, dari tiga kejadian itu, tau-tau ada suara ayahku. Ayahku besar, tapi ia juga memberiku bungkusan besar, setelah aku bangun. Bungkusan itu, katanya, diantar oleh si orang asing.

Oh, ternyata dia seorang kurir jasa pengiriman.

Dengan sobekan di sana-sini, setumpuk buku menghela nafas bebas di hadapanku.

Kamu tahu buku siapa itu?

Bukuku!

Aku menulis!

Aku menulis!

Saat itu, kamu mungkin sudah masuk ruang tunggu bandara.

Sementara, pikiranku melayang kemana-mana. Buku-buku ini adalah kiriman dari sebuah penerbit. Penerbit indie di Bandung. Penerbit indie yang aku percayakan untuk membukukan naskahku menjadi novel.

Kenapa indie? Karena ada beberapa pertimbangan, yang… Ah, sudahlah.

Saat itu aku ambil satu. Berharap kamu ikut mencium bau halaman buku baru. Bahkan… mungkin membacanya?

Tapi, bagaimana caranya? Iya, ‘kan?

Tiba-tiba, handphone-ku berkedip. Kamu bicara di twitter. Kamu, yang masih ada di ruang tunggu bandara di lain kota.

Kamu juga menyebut novel. Yang lantas membuatku berdegup, lalu segera me-reply dengan randomnya. Haha.

Novel yang berbeda, tapi entah kenapa berdebar.

Novel yang berbeda, tapi entah kenapa berdebar.

Novelku saat itu masih di tanganku. Tangan yang satunya, sementara itu, baru selesai me-reply kamu. Untuk beberapa alasan, itu 16 Juli yang paling bikin-senyum-senyum-sendiri untukku.


Setelah tumpukan novel yang datang itu pun, aku jadi sibuk inget-inget siapa aja temen aku yang udah pesen bukuku duluan. Semacem pre-order ya, Sis (anak online shop banget).

Karena ini penerbit indie, jadi aku-lah yang harus aktif. Apalagi, ini bukuku sendiri. Ini awalku.

Selama beberapa waktu, ada angka 1 Agustus di kepalaku. Tiba-tiba. Itu waktu untuk setlist baru kamu dan tim K3sayangan, kan?

Sambil aku muterin Cilacap nganterin buku pesenan temen-temen waktu itu, aku tau. Mungkin, sebelum dan setelah liburan ini pun kamu-lah yang aktif. 

Maksudku, latihan. 

JKT48 memang bukan penerbit indie. Para membernya juga bukan sekedar “buku terbitan”. Tapi kalau diibaratkan, semua member-lah yang bertanggung jawab atas dirinya. JKT48 ada sebagai payung kalian–termasuk Viny. Untuk membuat kalian dikenal (dalam kasus bukuku: “untuk menjual buku”), kalian-lah yang seharusnya juga bergerak.

Viny juga.

Setlist ini… setlist yang sudah lama kamu tunggu-tunggu, kan?

Buku ini juga buku yang sudah lama aku tunggu-tunggu untuk selesai dan terbit.

Kalau dianalogikan, mungkin…

“1 Agustus”-ku sudah datang dalam bentuk buku pertama yang aku tulis. Sedangkan, “1 Agustus”-nya Viny akan datang segera, di hari di mana Viny disinari di atas stage dengan lagu yang baru.

Persamaannya adalah,

… bukuku dan setlistmu, semuanya menjadi awal “yang baru” untuk kita masing-masing.

Walaupun perjalanan ke “awal yang baru” ini lumayan menguras emosi (somehow, your g+ post told us), saat nantinya kita berdiri di garis start, kita akan segera tau untuk apa kita bersedia berlari.

Bukankah berlari ke arah mimpi menjadi hal paling realistis yang dilakukan orang-orang?

Apalagi, kita sudah sama-sama menunjukkan mimpi kita, kan?


Ratu, semangat! Whatever will be, will be.

– r i –

PS: I still wish I can give you a copy of my book one day. Soon, maybe?

I mean… Jogja on August? Please?

#DearViny: Sepupu, Celetukan, dan Efek

Standard

#DearViny adalah kategori khusus untuk setiap post di blog ini yang ditulis dan ditujukan untuk dibaca Viny.

Surat pertama untuk Viny, berjudul Dear, Viny. bisa dilihat di sini. Postingan awal yang memulai tagar #DearViny di blog ini ada di sini.

==============================================

Dear, Viny.

Aku menulis postingan ini di sela-sela suara berisik, teriak, dan tawa yang berlebih-lebihan dari dua orang sepupuku. Masih 7 tahun.

Dua orang berusia 7 tahun tetap berusia 7 tahun walaupun seseorang yang berusia 23 tahun berusaha menenangkannya sepenuh hati. 

Mereka tadi ketawa waktu bisik-bisik, waktu lompat-lompat, lari-lari, ambil minum… Singkatnya, mereka tertawa praktis hampir di setiap tindakan. Berisik, deh. Tapi sayang, sih. Jadi cuma bisa bilang, “Sssst.. Jangan berisik, Pakde lagi tidur. Sini cepet bobo.”

Gitu.

Karena mereka masih rebutan mobil-mobilan (iya, yang satu cowok. Yang satu cewek tapi udah teracuni mainan mobil-mobilan dari tadi, jadi ya gitu deh), sekarang aku bisa nulis postingan ini, deh.

Tunggu.

Barusan banget, kamu nge-tweet. Kamu bilang, kamu punya cerita serem. Di twitter, kamu bilang,

Kebetulan (lagi) (lagi) (lagi).

Kebetulan (lagi) (lagi) (lagi).

Kenapa sepupu juga ya temanya? ._.


Jadi, sekarang, sambil kamu cerita di Twitter, aku masih nulis #DearViny. Di depanku, si sepupu masih ambil air minum, sambil bercerita dengan serunya tentang ketidaksabarannya untuk sahur nanti.

“Nanti kamu sahur, kan?”

“Pake apa ya sahurnya? Aku sukanya pake kriuk-kriuk.”

“Nanti kita makannya di depan TV, ya.”

Tapi yang paling absurd lagi, tadi jam 10an, salah satu dari mereka tanya,

“Mba, sahurnya 5 menit lagi, ya?”

5 menit, instead of 5 jam.

Hehehe. Cute banget sih anak kecil. Walaupun capek ngurusin anak-anak yang semangatnya kayak abis konsumsi baterai, tapi kadang celetukannya tiba-tiba bikin senyum.

Ketawa, malah.


Ngomongin soal ‘celetukan’ sepupu yang masih kecil, twitter kamu juga lagi cerita soal itu.

Di Twitter, kamu bilang, sepupu kamu kasih tau kalau ada ‘sesuatu’ di rumah kamu. Segala udah tweet misterius gitu suasananya (?).

Ada yang udah kasih advice segala gegara tweet ini.

Ada yang udah kasih advice segala gegara tweet ini.

Tapi ternyata, di tweet berikutnya…

Cie, ceritanya unexpected ending, kan? Hehehe.

Cie, ceritanya unexpected ending, kan? Hehehe.

(_ _”)

Walaupun kamu ngepost gambar tikus, kemudian kamu bilang kalau memang ada ‘sesuatu’ di rumah kamu.

Baik-baik ya Nyi. Hehehe. Mangats ❤


Sekarang sepupu aku mulai menaiki kasur. Barusan disuruh tidur sama Bude aku yang kebetulan lagi mudik dan nginep di sini. Pada takut, deh.

Apalah aku manusia 23 tahun yang gagal memaksa anak 7 tahun tidur tepat waktu.

Karena lampu kamar udah aku matiin dan aku masih ngetik diam-diam di sudut, sepertinya mataku mulai merengek minta berhenti dulu. Jadi…

Terima kasih sudah baca. Hehe.

Anyway, sebagai penutup, ada satu lagi cerita.

Celetukan sepupu, atau anak-anak, yang masih kecil, memang kadang mengejutkan, ya. Entah kitanya jadi agak ngeri sendiri, atau ketawa. Di kasus kita malam ini, celetukan sepupu kita masing-masing sangat berbeda.

Tapi, karena tweet kamu, aku jadi ingat waktu sepupuku lainnya yang masih kecil datang dan minta main sama aku (Iya, aku 23 tahun dan masih jadi tempat penitipan sepupu setiap lagi pulang kampung).

Waktu itu, rumah kosong. Cuma ada kita.

Lagi sepi, kita mau masuk ke kamar. Lagi mainan salon-salonan, ceritanya (alias, aku sedih dibedakkin sembarangan. Hiks).

Waktu lagi jalan, kita lewat kamar lain yang pintunya kebuka.

Tangan sepupuku tiba-tiba maju dan nunjuk ke dalam, sambil bertanya,

“Mba, itu siapa?”

Padahal, ga ada siapa-siapa.


Udah, ah. Sepupu aku sekarang udah panggil-panggil minta ditemenin tidur di sebelahnya.

Tugasku sebagai baby sitter belum berakhir T^T

Bye!

– r i –

#DearViny: Pilihanmu

Standard

#DearViny adalah kategori khusus untuk setiap post di blog ini yang ditulis dan ditujukan untuk dibaca Viny.

Surat pertama untuk Viny, berjudul Dear, Viny. bisa dilihat di sini. Postingan awal yang memulai tagar #DearViny di blog ini ada di sini.

==============================================

Dear, Viny.

Gimana puasanya? Udah buka kan?

Wkwk. Ya iya lah, udah jam segini juga. Sekarang, duduk ya. I’ll let you read this.

Take your time, Vin.


Jadi, semuanya dimulai dari kamu. Suatu hari, kamu kasih tantangan menulis seperti yang kamu tulis di sini. Singkatnya, hari ini baru kamu kasih tau semua orang soal cerita pilihan kamu.

Cerita pilihanmu itu..

Punya aku!

Punya aku!

“…. pilihanku dari Ri.”

Iya.

Aku.

Ceritaku yang ini.

And I was like…

Oh ya ampun, Viny main ke blog aku!

Hehe.

Maaf norak. Tapi aslinya, tadi aku kaget. Seriusan. Bukan cuma karena kamu pilih, tapi karena tadi aku sempet mau reply tweet kamu sebelum itu.

Aku, tadi udah nulis ini di TweetCaster-ku…

Select all >> Cut >> Terus nulis reply baru yang lain...

Select all >> Cut >> Terus nulis reply baru yang lain…

…tapi, ga jadi di-tweet.

Terus, bengong lagi deh. Mikirin mau ngapain. Mikirin Harry Potter. Mikirin skri——–disensor.

Tapi, tau-tau tweet kamu lagi-lagi bikin alisku naik, terkejut.

You gave the link and you said,

… buat nemenin buka pilihanku dari Ri 🙂

Like, seriously.

Kebetulan yang lain kan?


Jadi akhirnya cerita lanjutan versiku sekarang masuk di blog kamu. Penghargaan yang menyenangkan, kukira. Kamu, bagaimanapun, udah kasih semangatku nulis dengan caramu sendiri.

Karena aku sangat suka menulis, jadi… terimakasih, ya.

Walaupun hanya sebatas blog, tapi dengan adanya kamu yang memulai cerita itu, at least I took my time to write it back then.

And I enjoyed it.

Tapi, setelah tulisan itu pun, ada beberapa yang bertanya-tanya. Kenapa tulisan itu? Kenapa temanya begitu?

Di beberapa sudut, beberapa orang bahkan mungkin mengaitkannya dengan topik hangat sekarang: #LoveWins.

Ceritaku, walaupun hanya cerita, memang kisahnya tentang si “aku” yang menyukai seorang perempuan ini. Dari awal, dengan asumsi kamu tidak menyebutkan gender tokoh di cerita awalmu, maka aku punya caraku sendiri untuk membuat twist. 

Semuanya terbalik, tidak seperti yang diharapkan semua orang.

Itu kebiasaanku.

Atau lebih tepatnya, itu cara kesukaanku menulis cerita.

I’ve been writing short stories as a hobby since I was 9. Bahkan sejak itu pun, aku menikmati menulis cerita yang bikin pembacanya bilang, “Ya ampun, ternyata….” atau “Aku ga nyangka.”

As an (amateur) writer, itu kepuasanku.

Walaupun aku juga sering nulis cerita yang “normal”, sih.

Sedikit dari sekian cerita sih. Hahaha.

Sedikit dari sekian cerita sih. Hahaha.

Gambar di atas belum semua. Tapi itu gambaran dari folder tulisanku di laptop. Beberapa dari tulisan itu udah dikirim ke majalah atau diikutin lomba, tapi ga sedikit yang kurang beruntung hahaha…

Padahal kalau ada yang masuk, mungkin bisa buat contoh cerita plot twist lagi, haha. Ada yang sempet masuk majalah HAI (April awal, 2014). Tapi itu cerita yang ga aneh-aneh kok. Hehehe. Ceritanya tentang seorang cowok yang sedang terlalu “masuk” ke fandom idol group sampai melupakan kekasihnya~~

Eaaa. Malah promosi.

Maaf.

Ehm. Well..

Mungkin karena topik #LoveWins sedang hangat dan kebetulan ceritaku “tidak umum”, muncul banyak pertanyaan. Walaupun sebenernya bagi beberapa orang, ada banyak fanfict yang temanya gitu juga, ya. Hahaha.

Tapi, untuk banyak alasan, aku menyetujui pendapat kamu.

Aku juga.

Aku juga.

Tidak mendukung. Sesimpel ini.

Tidak mendukung. Aku sendiri bukan tokoh dalam ceritaku.

Hey, I have my boyfriend–and he, I’m sure, is not a girl.


Bagaimanapun, cerita adalah cerita, kan?

Semua orang bisa bercerita, menceritakan apapun yang ada di kepalanya. Tulisan-tulisan memang meluapkan perasaan penulisnya, kadang. Tapi penulis akan selalu bisa berseluncur di dunianya sendiri, dengan kata-kata dan alur yang ia pilih.

Semua orang bisa memunculkan dunia khayalan yang mereka pilih,

lalu menggantinya dengan dunia yang lain yang juga mereka pilih.

Bukankah begitu?


PS: Ini link post di blog Viny dengan ceritaku.

– r i –

#DearViny: 13 Juni, K3, dan Ketiga.

Standard

#DearViny adalah kategori khusus untuk setiap post di blog ini yang ditulis dan ditujukan untuk dibaca Viny.

Surat pertama untuk Viny, berjudul Dear, Viny. bisa dilihat di sini. Postingan awal yang memulai tagar #DearViny di blog ini ada di sini.

==============================================

Dear, Viny.

Gimana pesta K3 hari ini?

13 Juni. Tanpa diduga, tanggal 13 bulan 6 ternyata jadi hari yang mendebarkan, ya? Semua team di grup punya show konser sendiri hari ini, termasuk K3 kamu.

Pasti kamu udah latihan banyak. Iya, kan? Kita semua tahu, kamu sebelumnya baru sakit. Sakit ini-lah yang bikin kamu harus berlatih lebih keras karena kamu perlu ngejar ketinggalan.

:((

:((

Well, hey…

I mentioned about coincidences sometimes, right?

It happened again.

Jadi, saat kamu menyebut tanggal 13 Juni sebagai “hari H”, aku juga. Bukan konsernya—-aku ga dateng konser (maaf…) karena posisiku yang emang jauh.

“Hari H” ku adalah hari di mana aku ada penelitian lagi buat skripsi di sekolah SMA-ku dulu, di kota asalku, Cilacap (iya emang kayak si Desy .-.).

Skripsi.

Hahaha, lucu kan? Kamu masih 19, sedangkan aku sudah menua di atasmu, lalu sedang berusaha mencintai kata “skripsi”. Topik yang aku pilih adalah program radio berbahasa Inggris. Jurusanku bukan komunikasi, atau apapun yang berhubungan dengan radio–aku cenderung ke bahasa Inggrisnya. Penelitianku adalah melakukan program ini dengan si murid-murid kelas 10 Bahasa.

Siaran hari ini adalah siaran ketiga, karena yang pertama dan kedua sudah dilakukan Mei lalu.

Siaran ketiga.

Ketiga.

Ke-tiga.

Ke-3.

K-3.

K3.

Team K3.

The first thing I did after realizing this relation of “Ketiga” and “K3” was….

laughing.

Like, really.

I mean, saat aku kebingungan menghadapi penyiar SMA yang pronunciationnya masih perlu belajar, aku tau di sana kamu lagi siap-siap mau masuk Show 2. Kebetulan lagi.

Jadi hari ini, sebenarnya kita berjuang sama-sama, walaupun ada jarak dan kesempatan yang berpunggungan. Kesempatanku ada di ruang broadcast, sementara kamu di atas stage.

Tapi, tujuan kita hampir sama.

Kamu berjerih payah untuk mereka yang akan ada di depanmu sambil mengangkat bendera K3 dengan bangga, sedangkan aku  bersusah payah untuk mereka yang dengan penuh harap mendapat banyak ilmu dari materi radio bahasa Inggris.

Di pundak kita ada asa yang dinantikan orang-orang, ya?

Kadang, bukankah itu mendebarkan?

Perasaan semacam ini. Selalu, awalnya.

Perasaan semacam ini. Selalu, awalnya.

Tapi, pada akhirnya, kita akan memutuskan untuk maju terus. Kenapa?

Karena, kita ga perlu terus-terusan lihat ke belakang, kan?

Do. Not. Look. Back.

Alasannya: #DontLooK3ack

Alasannya: #DontLooK3ack

Bagi orang, graffiti itu sepele. Bahkan mungkin mereka ga repot-repot menoleh demi coretan warna kuning. Tapi, sekali lagi, it just happened.

Aku lagi naik motor. Pusing. Pengen lulus. Skripsi belum kelar *malah curhat*. Tau-tau di jalan deket kampus, I looked at walls on my right.

Itu dia.

Seifuku K3 yang melegenda–biru kuning yang ceria. Di sampingnya, ada nama show kalian,

DontLooK3ack.

Kalau dipikir-pikir lagi, judul itu menyenangkan, ya? Tiga kata yang maknanya mendorong kita yang, awalnya, ketakutan.

Sekarang pasti mau maju ke depan aja, kan? 😉

Tanpa ketakutan!

Tanpa ketakutan!

Foto setelah berusaha juga! Maaf murid-murid aku di-blur aja :p

Foto setelah berusaha juga! Maaf murid-murid aku di-blur aja :p

Tapi…

Hari ini, walaupun udah berusaha dengan sekuat hati, hasilnya mungkin ga sesempurna ekspektasi awal. Siaran tadi sampai aku ulang rekamannya, karena semua suara bising penyiarnya kerekam, dan ada beberapa pronunciation yang kurang tepat banget. Mau nangis?

Iya banget.

Dan kamu di sana, pasti lagi shock sama pengumuman reshuffle. Iya, fans juga kaget. Walaupun ga langsung ke kamu, tapi orang-orang di sekitarmu mulai dipindah ke sana dan ke sini…

Siaran yang kurang memuaskan dan reshuffle tiba-tiba.

Waktu aku pulang sambil nyaris putus asa, ayahku bilang,

“Ya ga papa, kan? Itu data asli dari penelitianmu. Di skripsi, data yang kamu dapet apa adanya itu yang harus kamu hadapi.”

Doesn’t it sound right?

Maka, kamu juga.

Apapun yang baru saja terjadi malam ini, adalah hasil yang kamu, dan kalian, dapat, dan harus dihadapi.

Bagaimanapun juga, 13 Juni taun ini masuk daftar ke tanggal paling berkesan kita, kan?

Otsukare, Ratu-ku!

==============================================

– ri –

#DearViny: #AkuLanjutinYa

Standard

#DearViny adalah kategori khusus untuk setiap post di blog ini yang ditulis dan ditujukan untuk dibaca Viny.

Surat pertama untuk Viny, berjudul Dear, Viny. bisa dilihat di sini. Postingan awal yang memulai tagar #DearViny di blog ini ada di sini.

==============================================

Dear, Viny.

Merupakan hal yang mengejutkan dan menyenangkan banget waktu tau kalau kamu akhirnya bikin tantangan menulis. Ini Viny banget!–hal yang memang diperkirakan bakal dimulai oleh Viny.

Jadi inilah cerita lanjutan versiku. Mengetahui kalau cerita ini bakal dibaca Viny adalah hal yang menakjubkan. Semoga suka, ya Ratu.


[Supaya lebih nyambung, silakan baca cerita awalnya di sini.]

Sambungan cerita dimulai… #AkuLanjutinYa

==============================================

How I love the way you move, and the sparkle in your eyes…

There’s a color deep inside them, like a blue suburban sky…

Lagu Warrant yang terdengar secara misterius itu masih mengalun. Aku diam-diam menatap matanya yang cemerlang.

Kenapa warnanya coklat sekaligus penuh warna lain yang memesona?

Dan yang lebih penting, bagaimana bisa seorang manusia merasa sangat  ingin memeluk manusia lain seperti ini?

“Yuk, kita mulai saja,” katanya, tiba-tiba. Hmm.. jadi dia sudah selesai bernyanyi? batinku geli.

 

Pukul 3 sore, di hari yang sama, di hadapan secangkir kopi

Aku masih ingat minggu lalu adalah acara angkatan sekolahku. Entah siapa yang mengusulkan, tapi kami semua mengadakan acara di pantai kota.

Bahkan dengan seragamnya yang dikenakan kali terakhir hari itu, dia masih menjadi satu-satunya orang yang membuatku menoleh.

Oh, ya. Omong-omong, dia sudah pulang sedari tadi. Kami hanya bertemu sebentar.

Dan tidak terlalu banyak bicara.

Tapi aku tidak keberatan. Duduk satu meja dengannya adalah kesempatan yang telah lama sekali aku bayangkan. Ditambah lagi, dia tersenyum lebih dari 3 kali kepadaku.

Bukankah aku orang yang paling bahagia sedunia?

Ah…

Aku jadi ingat saat itu, saat mendebarkan sekaligus memalukan.

Ingat acara kelulusan angkatanku di pantai yang tadi kusebut? Dengan segenap hati, aku menyapanya. Menembus celah mentari. Otakku berputar mencari bahan obrolan.

Lalu memutuskan untuk memuji pakaiannya.

“Bajumu bagus.”

Saat kalimat itu keluar, aku baru sadar: ia memakai seragam sekolahnya.

Bodoh.

Bisakah aku lebih bodoh lagi?

Denting sendok yang berputar asal di cangkirku seirama dengan tawa geli di kepalaku.

Tapi—hey, selalu ada saat di mana kita tak bisa bicara di depan seseorang, kan?

“Terima kasih, tapi ini hanya seragam yang seperti biasanya.”

Dia menjawab heran. Ingin tertawa, aku tahu. Sungguh baik sekali ia tidak melakukannya.

Atau mungkin ia tahu aku sangat berdebar?

“Kurasa… Begini…”

Aku melihat uap keluar dari cangkirku. Memejamkan mata, aku terus memutar kenangan minggu lalu dengannya.

“Sebenarnya ini aneh. Tapi, ada kafe baru di dekat sekolah. Apakah kau keberatan mampir ke sana besok?”

Dia terkejut. Aku tidak menyalahkannya.

“Aku akan membantumu soal essay yang sedang kau kerjakan.”

 

Pukul 10 pagi, di hari yang lain. Di atas hamparan pasir putih…

dan ombak.

“Aku masih tidak mengerti jawabanmu waktu itu. Soal kau tahu tentang aku yang sedang menulis essay.”

Aku mengedikkan bahu seadanya. Suara ombak terdengar di sela-sela napas.

“Di daftar pengumuman,” kataku, “ada 10 murid sekolah kita yang lolos seleksi pertama universitas di Jogja.”

Mataku menatapnya. “Salah satunya kamu.”

“Ah, benar, benar… Di sana ada penjelasan kalau syarat yang harus ditempuh selanjutnya adalah menulis essay tentang diri sendiri sepanjang 10.000 kata,” sahutnya sembari mengangguk.

Aku tersenyum.

Sebenarnya itu hanya setengahnya benar. Aku selalu diam-diam mencarinya saat istirahat. Apa kau mengira aku tidak akan tahu apa yang sedang dia hadapi?

Maaf, tapi dahagaku akan senyumnya membuatku selalu mencari tahu.

“Tapi aku senang kau tiba-tiba datang menawariku bantuan. Terima kasih.”

Dia tersenyum. Yang kesekian kalinya untukku.

Ya Tuhan, perasaan ini semakin meluap-luap. Apakah harus kuungkapkan saja?

“Lagipula kudengar kamu penulis yang cukup berbakat. Kolom opini dan cerita pendek di majalah sekolah… itu tanggung jawabmu, kan?”

Aku mengangguk. Berpura-pura tuli pada bunyi jantung yang memekakkan organ tubuh.

“Kalau begitu, aku benar-benar beruntung. Kurasa kau tidak keberatan untuk datang malam ini ke rumahku? Perayaan persahabatan kita?”

Deg. Rasanya ombak yang baru saja mencium telapak kakiku lebih dingin dari sebelumnya.

Perayaan persahabatan.

Padahal, aku sudah belajar mengenalnya sedikit demi sedikit hari itu. Aku mendengar ceritanya. Aku membaca tulisannya. Aku membiarkan ia bergerak untuk memudahkanku menciptakan rangkaian kata yang pas pada essay tentang dirinya.

Kurasa itu tidak mengubah apapun terlalu banyak, huh?

Bodoh, cepat-cepat aku menyadarkan diriku sendiri.

Memangnya aku mengharapkan apalagi? Toh aku tidak jatuh cinta.

Iya, kan?

“Tentu saja,” jawabku pada detik kelima.

Dia terkikik. Lebih dari sekedar senyuman. Tubuhnya mendekat ke arahku.

Merangkulku.

Tepi roknya menyentuh batas akhir rokku juga. Rok yang sama. Sekali lagi hari itu, kami sepakat mengenakan seragam kesukaan dari sekolah kami yang khusus perempuan.

Seragam kami sama.

Walaupun ternyata perasaan kami jelas berbeda.

Tahu-tahu aku mendengarnya lagi. Lagu Warrant.

I don’t know what to do

but I’m never giving up on you…

Seseorang baru saja lewat sambil bernyanyi asal-asalan. Sial, kerongkonganku tercekat.

“Aku suka lagu itu. Kau suka?”

Heaven isn't too far away, is it?

Heaven isn’t too far away, is it?

Dia tersenyum—senyum yang sama yang selalu membuatku terpikat.

Aku tidak sempat menjawabnya. Otakku terlalu sibuk berpikir tentang obsesiku pada senyumnya dan keinginanku memeluknya.

Tapi, apakah…

Apakah ini tak boleh?


– r i –