Setelah 365 Hari

Standard

07 Des.

7 Desember sebelumnya tidak berarti terlalu dalam untuk aku. Hal yang terlintas di kepalaku setiap tanggal 7 Desember adalah judul album Sheila on 7 (07Des) dan fakta bahwa 7 Desember adalah hari ulang taun salah satu sahabatku masa SMA.

Tapi, sejak tahun lalu, maknanya bertambah satu.


Satu tahun yang lalu, ada kenangan menyenangkan yang terlintas sebelum tidur malam. Siang harinya pada waktu itu, aku datang ke tempat yang dikerumuni orang (kebanyakan laki-laki) dengan suara musik ceria yang menghentak.

Aku masih ingat.

“Periksa tasnya, jangan bawa makan minum ke dalem.”

“Woi jangan nyelip, antri!”

“Kok belom open gate, ya?”

“Li, kok itu….om-om?”

Hahaha.

Kalimat terakhir itu kalimat dari kakakku. I mentioned about her when I met you that day. Remember?

Kalau kita tarik lagi waktunya ke hari sebelum itu, aku juga masih ingat. Naik kereta dari Jogja. Nungguin kakak balik kantor di Jatinegara. Nervous sampe malem sebelum tanggal 7… Kenapa?

Because that day was… the day.


 

Do you remember how we met?

Masuknya sederhana. Selesai antri open gate, langsung masuk antrian, ambil CD single (karena belinya online). Karena open gate-nya mundur, waktu sesi 1 HS udah lumayan ‘kemakan’. Akhirnya mau langsung masuk buat HS aja.

And we were at the same place, finally.

Setelah registrasi dan dibolehin masuk ke area HS, I was both shocked and confused. Iya, aku ga pernah ikut HS Festival, so things were new for me. Many people. Not too crowded yet, but everything was so new and exciting.

Ada member-member. Tapi, I didn’t even see their faces. Aku cuma liat nama mereka: Melody, Viny, Lidya….

Dan di situlah kamu.

Setelah buru-buru berjalan mencari nama dua kata yang jadi alasan aku berkereta ke sana, aku mendekati biliknya.

I saw you.

Dan begitu saja rasanya.

Bukan kupu-kupu di perut. Bukan debaran aneh seperti jatuh cinta.

Hanya perasaan yang bisa kamu rasakan ketika bertemu seseorang yang kamu harap bisa ada di depanmu secara langsung.

ricalulus.jpg

Di depanku ada seorang laki-laki yang antri, dan seorang lagi yang sedang HS sama kamu, kan, Teh? Waktu itu, aku pengen mundur. Hahaha. Asa belum siap. Tapi ya gimana, si kakak kan udah nunggu di luar…

Akhirnya antriin aja. Si laki-laki paling depan udah selese, lanjut ke laki-laki kedua buat HS. Aku maju.

That was crazy. I was going to meet you! You, whom I always adore. Meeting the person whom you adore isn’t easy, man. You’ll keep wondering if that’s real or not, you’ll keep asking why you are even there, asking if this is the right thing to do, if you’ve got enough nerve to meet that person…

Masih ingat? Aku masih. I wrote every single thing here.


 

Setelah kamu grad, Teh, I decided to stop. Seperti yang aku bilang waktu HS, aku mau fokus kuliah aja. Nyatanya, laporan, magang, laporan lagi, proposal, bimbingan… semuanya nyita waktu, ya. Aku menikmati. Seperti kamu yang juga menikmati kelulusan itu.

(here, you may insert all of your happy memories after the graduation)

Butuh waktu 4 bulan sampai aku punya oshi baru lagi, in the group (lol yes, I thought I would never come back, but it was kinda addictive), dan jarang buka akun translate-an karena revisi numpuk.

Screenshot_2015-12-07-22-52-30.png

Teteh sempet bilang, “Ri, semangat skripsinya, ya! Aku doain Ri lulus skripsinya.”, berdasarkan request aku di zeemi hahaha!

Tapi ga papa, kan?

Soalnya, saat itu, aku lagi berupaya meniru kostum yang kamu pakai di HS terakhir.

rica toga.jpg

TOGA.

Dan,

coba tebak?

I did it.

IMG-20151128-WA0016.jpg

You’re prettier, but at least I’m wearing toga in this photo :p


 

Dalam 365 hari, banyak hal yang terjadi.

Kamu, Teh, punya channel di Zeemi, MnG ke Jepang, lelang amal, buka bersama, diliput di TV, sampai yang terakhir kemarin MnG di Bandung.

Aku juga.

Bab 1, bab 2, bab 3, bab 4, bab 5 , sedih ditinggal dosen pembimbing ke Belanda, sidang skripsi tanpa beliau, dan lain-lain.

You lived your life, I lived mine.

Selama ini, selama kamu masih di JKT48, aku selalu lihat kamu. Sejauh apapun jaraknya, selalu ada waktu yang menyela hanya sekedar untuk membaca tweet.

Sekarang, sekali lagi, selamat atas kebebasan kamu untuk memilih jalan mana yang kamu mau untuk karirmu. I may not always be there to reply every tweet of yours, or to watch your live streaming, or to come to your events,

but I’m still here.


 

Teh Rica, coba ingat-ingat dengan baik waktu kita HS.

Ada saatnya aku bilang “Terima kasih”, kan? Ada juga saatnya kamu peluk aku, kan?

Sekarang, coba tutup mata, terus inget lagi caraku bilang “terima kasih” waktu itu, dan caramu memeluk.

Karena, dua hal itu yang sekarang paling ingin aku kirim untuk kamu.

Terima kasih, Rica Leyona! ❤

 

 

– Ri –

Advertisements

#DearViny: Jogja.

Standard

#DearViny adalah kategori khusus untuk setiap post di blog ini yang ditulis dan ditujukan untuk dibaca Viny.

Surat pertama untuk Viny, berjudul Dear, Viny. bisa dilihat di sini. Postingan awal yang memulai tagar #DearViny di blog ini ada di sini.

==============================================

Dear, Viny.

Tell me how it feels to finally celebrate your 300th show and hold #K3sungguhan with the team?

Pasti jadi jadwal super hectic buat kamu. Lagu ini, lagu itu. Koreo ini, koreo itu. Latihan. Waktu yang singkat tapi terasa sedikit lebih lama, ya?

Tapi pada akhirnya, you did it.

Selamat, ya! Walaupun (tetep), kata ‘selamat’ itu ga bisa diucapkan langsung, tapi sebuah perkataan tulus selalu bisa disampaikan, kan? 😀


Jadi, hari ini aku balik ke Jogja–kota perantauanku sejak 4 taun lalu, sekaligus ‘rumah’ kedua setelah Cilacap. Perjalanan semestinya cuma 5 jam, tapi molor gara-gara nungguin shuttle yang super lama.

Waktu masuk Jogja, belum ada perasaan apa-apa. Begitu sampai, dijemput Mas Hutan *ehehe* dan sampai di kos.

Felt tired padahal di bis kan duduk aja. Ketiduran. Tiba-tiba kebangun dan langsung mikir.

How many days left?

Kedatanganku balik ke Jogja sekarang adalah karena besok Mas Hutan wisuda, dan 10 hari kemudian aku yang gantian pakai toga. Setelah itu kita akan pulang (literally) dan melanjutkan hidup di tahap yang bener-bener berbeda: bukan mahasiswa.

Seandainya kelulusan itu semudah kita mencari-cari tiket pesawat secara impulsif dan kebeli dan mendarat di kota yang kita mau, aku tidak akan berpikir sekeras ini. Tapi bagaimana jika nyatanya kelulusan adalah kemungkinan terbesar kita harus berpisah dengan kota ini?

Jadi tiba-tiba tadi aku berdiri dari kasur, dandan seadanya, ambil kunci motor, dan let myself go around Jogja.

Aku bukan tipe orang yang suka main setiap hari, tapi aku juga ga akan terlalu menikmati hari-hari di balik dinding. Sudut-sudut Jogja belum habis kutempuh semua, tapi sebentar lagi ada toga yang dipasang di kepalaku tanda aku sudah sampai di akhir waktu berjuang S1 di sini. Ya, beberapa ruas jalanan Jogja seringkali kulewati, sendiri, ataupun dengan teman. Tapi ada satu tempat yang belum pernah aku kunjungi sendirian.

Malioboro.

Entahlah. Padahal dulu, sebelum kuliah, aku suka membayangkan diriku sendiri duduk di sekitar titik 0 KM sambil memikirkan cerita pendek apa yang seharusnya kutulis. Nyatanya, kebanyakan waktu ke sini adalah siang atau sore hari, dengan ditemani seseorang, atau malah kelompok.

Malioboro, mainstream tapi selalu jadi tempat di mana aku yakin aku sudah sampai di Jogja yang benar.

Jadi dengan absurd-nya, aku cuma bisa berjalan-jalan sejauh kakiku bisa (ps: tadi pagi abis luka kebaret kawat mayan panjang jadi cepet pegel kalo berdiri huhu), menikmati diri sendiri berbicara bahasa Jawa  yang Jogja banget sama ibu-ibu penjual tas anyaman, nyium bau kuda *lah*, ngeliat ini itu… tanpa terbatas waktu.

Lalu pulang ke kos lewat jalan yang nembus-nembus I didn’t even know.

Yet, I did it for some reasons.

Dan aku menikmati escape itu.

Kelulusan tentu saja membahagiakan. Tapi kalau kelulusan berarti aku harus kembali ‘pulang’ dan menjadikan Jogja sebatas ‘luar kota’ lagi, aku belum tau bagaimana rasanya.

Sore itu, Jogja hanya terasa sangat tepat.

Beberapa kali aku pergi sendirian, tapi perjalanan tadi sore entah kenapa rasanya dalem banget.


Kelar ‘kencan’ sama Jogja, aku cuma bisa diem sambil ngeliatin tas anyaman (yes i finally bought that lol). Bagus tasnya!

Dan Jogja-nya.

 

I’m not the only one thinking that way, kan?

 

PS: I just read your blog and am surprised to know you’re here too. Right after this ‘blue’ feeling.  Well… Have a very good Jogja time!

 

– r i –

 

#DearViny: Bukan TTS

Standard

#DearViny adalah kategori khusus untuk setiap post di blog ini yang ditulis dan ditujukan untuk dibaca Viny.

Surat pertama untuk Viny, berjudul Dear, Viny. bisa dilihat di sini. Postingan awal yang memulai tagar #DearViny di blog ini ada di sini.

==============================================

Dear, Viny.

Di post sebelumnya, aku bilang soal ‘perayaan’mu sebelum HS. Tapi memang, no one knows what the future holds. Nyatanya, sebelum theater kemaren, twitter official bilang,

Jueder.

Jueder.

And you, being considerate, tweeted:

..so yes, we didn't.

..so yes, we didn’t.

Dari sakitmu, tentu saja kita berdoa untuk sembuhmu. Mungkin ada yang kemudian menyadari, angka 300 harus mundur sebentar. Tapi… who cares? It’s you that is more important.

Faktanya, Viny yang sehatlah yang dirindukan orang-orang.

V for Viny aja.

V for Viny aja.

So now, if you’re reading this while you’re still not feeling well, just take a rest. Minum obatnya kalo ada. A lot of people expect to see you soon. 

Tapi, kalau badanmu perlu istirahat, give it–just don’t hold it.


Anyway, aku punya cerita. Karena 300nya mundur, tema cerita kali ini adalah….

“…back then.” (?)

Hahaha! Apa sih. Maksudnya, mau ngomong jaman duluuu. Coba, #TunjukkanIngatanmu, ya! *ssst, ini bukan TTS kok*

Pertama, kamu inget ga: bringing around your pets everywhere? Eh sebenernya penasaran juga, sih, kamu mainin ini atau engga (?). Kita aja beda 4 taun ya *lol*

Jadi….. kamu tau ga?

Ini apa, ya?

Ini apa, ya?

Teruuus, ada lagi nih yang kedua. It was something you would use to hit others in a funny way! Lucu banget, praktis, dan jahil. Aku juga penasaran, kamu main beginian ga ya? Hahaha!

Tau ga?

Tau ga?

Nah yang ketiga, yang terakhir ya. This was something girls liked. Kecuali kalau ternyata cewe-cewenya tomboy. Hehehe. Felt like playing Barbie in a traditional way (?). Mungkin, ini definisi ‘cantik’ pada jamannya :p

Guess what.

Guess what.


Bisa nebak ga? :p

Jadi, inilah jawabannya!

tama2

Pertama.

gt2

Kedua.

Ketiga.

Ketiga.

Did you get it right? Ga tau sih kamu mainan kayak gitu juga atau engga (?) Mau nambahin tebakan jajan jaman dulu tapi ada merknya, nanti dikira iklan (?) :p

Anyway, buat menutup postingan, mengingat tadi udah ngomongin “back then”, jadi inget tweet kamu beberapa hari lalu.

<3

Somehow, I believe, many people want to say that line for you right now.

Ratu Vienny Fitrilya,

Cepat sehat lagi, ya! ❤

– ri –

#DearViny: Memulai Lagi (Menuju 300)

Standard

#DearViny adalah kategori khusus untuk setiap post di blog ini yang ditulis dan ditujukan untuk dibaca Viny.

Surat pertama untuk Viny, berjudul Dear, Viny. bisa dilihat di sini. Postingan awal yang memulai tagar #DearViny di blog ini ada di sini.

==============================================

Dear, Viny.

Been a very long time since the last time I wrote here. Kamu apa kabar?

Very well, I guess?

Well, setelah lama berusaha ga kepo-kepo dulu di Twitter, mulai beberapa hari lalu aku iseng buka-buka Twitter lagi dan ‘ngebaca’ kamu. Surprisingly, ada satu video di Twitter kamu in which kamu ngelus-ngelus si kucing……

Wow. You’re such a brave girl now. LOL :p

Tapi walaupun ujungnya ditinggal, at least kamu membuat perubahan atas diri sendiri ya!

Inyi and the Cat She Touches

Inyi and the Cat She Finally Touches

…dan…

I did the same.

Setelah sekian lama temen-temen ngontak aku dengan kalimat “Boleh minta tolong translate abstrak skripsiku ga?”, aku jadi ingin menyelesaikan skripsiku sendiri. Kan ga lucu, ngelirik folder documents isinya cuma abstrak dari berbagai fakultas semacem Kehutanan, Peternakan, Ekonomi, Teknik, bahkan Kedokteran Gigi…

padahal aku anak Pendidikan Bahasa Inggris.

Sebagian sih... tapi sampe lupa ini file abstrak punya siapa aja.

Sebagian sih… tapi sampe lupa ini file abstrak punya siapa aja.

Dan karena skripsi harus banget direvisi, I decided to make myself fall in love with my own thesis…

..and…

I did it! I mean, I literally did it.

My second 'book'. You've already had my first one, Your Majesty.

My second ‘book’. You’ve already had my first one, Your Majesty.

Iya, pencapaian mahasiswa banget emang.


Kalau bicara soal ‘pencapaian’, deket-deket ini adakah yang mengingatkan kamu akan sesuatu?

Clue: Tiga Ratus. Di dalam ‘tiga ratus’, ada kata RATU *maksa*.

Akhir oktober ini, aku akan ambil undangan yudisium. Sedangkan kamu, sebelum HS Event, mungkin ada perayaan akan sesuatu kan?

Di hari itu, pahami pencapaian kamu. Resapi. Sejauh apa. Seberapa keras. Apa yang sudah dilewati.

Hari itu, seperti orang yang baru melewati ujian skripsi, mungkin kamu akan berdebar lega sekaligus ingin tahu:

di depan sana, ada apa lagi, ya?

Ada apa?

Ada apa?

Ratu, selamat mempersiapkan dirimu sendiri yang akan bersiap-siap melangkah maju! Hal-hal baru akan selalu jadi awal untuk memulai. Perlahan-lahan, tunjukkan terus mimpi kamu ya!

Selamat menempuh mimpi.

– ri –

#DearViny: Balada Menunggu dan Ditunggu

Standard

#DearViny adalah kategori khusus untuk setiap post di blog ini yang ditulis dan ditujukan untuk dibaca Viny.

Surat pertama untuk Viny, berjudul Dear, Viny. bisa dilihat di sini. Postingan awal yang memulai tagar #DearViny di blog ini ada di sini.

==============================================

Dear, Viny.

Ga semua hal itu berjalan dengan lancar dan baik. Ada yang membahagiakan, tapi ada juga momen di mana kamu merasa sedih, kecewa, lelah.

 

Inget kata-kata itu? Itu yang kamu bilang di sini.

Kemarin, sebelum tidur, randomlyI listened to it. Entah kenapa, ada setumpuk sesuatu yang rasanya bikin aku tersekat. Maksudku….

semua orang pernah ngerasain hari di mana segalanya menjadi begitu menyedihkan, kan?


Hari ini, aku baru buka draft di blog. Sebenernya udah nyiapin #DearViny ini dari lama. Tulisannya udah separo.

Tentang penolakan.

Sedih banget ya kesannya? Wkwkw. Yah, pokoknya tadinya di halaman ini, aku udah nulis pengalaman yang menyedihkan gitu rasanya.

Mulai dari nungguin dosen berjam-jam, nungguin revisian skripsi, sampai janji ketemuan sama mas pacar jadi batal padahal kita mau nonton Detective Conan T^T (ehehehe).

But I didn’t post it. Aku memilih untuk menyimpan halaman itu di draft, dan berusaha menghadapi semuanya.

Aku tunggu sampai dosenku datang.

Aku tunggu sampai skripsiku siap direvisi setelah sebulan disimpen dosen.

Aku tunggu sampai mas pacar balik setelah diculik temen-temennya main seharian.

Dan akhirnya?

I got what I want.


 

Malem tadi, aku mau nge-post #DearViny, waktu tiba-tiba kamu nge-post #BlogViny. Ada kutipan kamu yang aku suka banget di sana:

Ya memang seperti itu, semakin terasa realistis semakin kita tidak puas akan sesuatu. Padahal itulah kenyataan.

Menunggu itu sangat realistis. Orang yang sedang kita tunggu mungkin punya alasannya sendiri. Alasan logis, nyatanya. 

Tapi kita akan selalu beranggapan menunggu itu menyebalkan. Iya, kan?

(Eh ini ga bermaksud nyindir kamu karena kita udah nungguin postingan blog terbarumu kok! HAHAHAHA :p)

Pada akhirnya, menunggu itu membuahkan hasil kok! Ngerasain ga?

Ibaratnya, kita punya novel terbaru yang kita ikutin. Tapi sayangnya, kita lupa bawa waktu mau flight ke suatu kota, jadi ga bisa baca :p

Lama. Kecewa. Sedih. 

Tapi pada waktunya, novel itu bisa di ada di tangan kita dan menyihir kita masuk ke dalamnya.

Bukankah itu yang dimisalkan pada perumpamaan ‘senang setelah sedih’?


Ngebaca blog kamu yg ini, jadi tau kalau sebuah novel pun bisa menunggu untuk dibaca.

Semoga novel-novel lain pun akan dapat gilirannya ya, Ratu!

Sedangkan aku, sudah ditunggu bab 1 sampai bab 5 skripsi untuk revisian….

Bye!

 

– ri –

 

#DearViny: Yang Baru

Standard

#DearViny adalah kategori khusus untuk setiap post di blog ini yang ditulis dan ditujukan untuk dibaca Viny.

Surat pertama untuk Viny, berjudul Dear, Viny. bisa dilihat di sini. Postingan awal yang memulai tagar #DearViny di blog ini ada di sini.

==============================================

Dear, Viny.

Pertama-tama, mohon maaf lahir dan batin ya. Hahaha!

Ini adalah #DearViny pertama setelah lebaran. Had a lot of fun, huh? Cerita Viny waktu lagi mudik gimana? Seru? Sampai akhirnya sekarang udah balik ke theater lagi….

…you’ve had a sweet escape, right? 😉


Sebenernya, ada cerita-cerita yang tadinya dilipat rapi di kepala, sampai tiba waktunya dikonversi jadi edisi baru yang bisa kamu baca. Tapi nyatanya: liburan, waktu yang tersia-sia, dan semua kegiatan-kegiatan sepele, pada akhirnya merampas separuhnya.

Aku lupa.

Hehe.

Lupa, pada urutan yang bagaimana aku merencanakan #DearViny yang ini ditulis. Tapi bagaimanapun, seorang penulis tidak akan menyerah bercerita lewat kata-kata, kan, Vin? 😉

Aku inget, awal liburan yang si kamunya lagi mau mudik. Mungkin, waktu kamu lagi di Bandara, aku masih tidur di kotaku. Sedangkan, ada seorang asing yang menuju rumahku.

Dunia ini, walaupun kita punya hidup sendiri, orang-orang lain juga ikut bergerak, kan?

Jadi, dari tiga kejadian itu, tau-tau ada suara ayahku. Ayahku besar, tapi ia juga memberiku bungkusan besar, setelah aku bangun. Bungkusan itu, katanya, diantar oleh si orang asing.

Oh, ternyata dia seorang kurir jasa pengiriman.

Dengan sobekan di sana-sini, setumpuk buku menghela nafas bebas di hadapanku.

Kamu tahu buku siapa itu?

Bukuku!

Aku menulis!

Aku menulis!

Saat itu, kamu mungkin sudah masuk ruang tunggu bandara.

Sementara, pikiranku melayang kemana-mana. Buku-buku ini adalah kiriman dari sebuah penerbit. Penerbit indie di Bandung. Penerbit indie yang aku percayakan untuk membukukan naskahku menjadi novel.

Kenapa indie? Karena ada beberapa pertimbangan, yang… Ah, sudahlah.

Saat itu aku ambil satu. Berharap kamu ikut mencium bau halaman buku baru. Bahkan… mungkin membacanya?

Tapi, bagaimana caranya? Iya, ‘kan?

Tiba-tiba, handphone-ku berkedip. Kamu bicara di twitter. Kamu, yang masih ada di ruang tunggu bandara di lain kota.

Kamu juga menyebut novel. Yang lantas membuatku berdegup, lalu segera me-reply dengan randomnya. Haha.

Novel yang berbeda, tapi entah kenapa berdebar.

Novel yang berbeda, tapi entah kenapa berdebar.

Novelku saat itu masih di tanganku. Tangan yang satunya, sementara itu, baru selesai me-reply kamu. Untuk beberapa alasan, itu 16 Juli yang paling bikin-senyum-senyum-sendiri untukku.


Setelah tumpukan novel yang datang itu pun, aku jadi sibuk inget-inget siapa aja temen aku yang udah pesen bukuku duluan. Semacem pre-order ya, Sis (anak online shop banget).

Karena ini penerbit indie, jadi aku-lah yang harus aktif. Apalagi, ini bukuku sendiri. Ini awalku.

Selama beberapa waktu, ada angka 1 Agustus di kepalaku. Tiba-tiba. Itu waktu untuk setlist baru kamu dan tim K3sayangan, kan?

Sambil aku muterin Cilacap nganterin buku pesenan temen-temen waktu itu, aku tau. Mungkin, sebelum dan setelah liburan ini pun kamu-lah yang aktif. 

Maksudku, latihan. 

JKT48 memang bukan penerbit indie. Para membernya juga bukan sekedar “buku terbitan”. Tapi kalau diibaratkan, semua member-lah yang bertanggung jawab atas dirinya. JKT48 ada sebagai payung kalian–termasuk Viny. Untuk membuat kalian dikenal (dalam kasus bukuku: “untuk menjual buku”), kalian-lah yang seharusnya juga bergerak.

Viny juga.

Setlist ini… setlist yang sudah lama kamu tunggu-tunggu, kan?

Buku ini juga buku yang sudah lama aku tunggu-tunggu untuk selesai dan terbit.

Kalau dianalogikan, mungkin…

“1 Agustus”-ku sudah datang dalam bentuk buku pertama yang aku tulis. Sedangkan, “1 Agustus”-nya Viny akan datang segera, di hari di mana Viny disinari di atas stage dengan lagu yang baru.

Persamaannya adalah,

… bukuku dan setlistmu, semuanya menjadi awal “yang baru” untuk kita masing-masing.

Walaupun perjalanan ke “awal yang baru” ini lumayan menguras emosi (somehow, your g+ post told us), saat nantinya kita berdiri di garis start, kita akan segera tau untuk apa kita bersedia berlari.

Bukankah berlari ke arah mimpi menjadi hal paling realistis yang dilakukan orang-orang?

Apalagi, kita sudah sama-sama menunjukkan mimpi kita, kan?


Ratu, semangat! Whatever will be, will be.

– r i –

PS: I still wish I can give you a copy of my book one day. Soon, maybe?

I mean… Jogja on August? Please?

#DearViny: Sepupu, Celetukan, dan Efek

Standard

#DearViny adalah kategori khusus untuk setiap post di blog ini yang ditulis dan ditujukan untuk dibaca Viny.

Surat pertama untuk Viny, berjudul Dear, Viny. bisa dilihat di sini. Postingan awal yang memulai tagar #DearViny di blog ini ada di sini.

==============================================

Dear, Viny.

Aku menulis postingan ini di sela-sela suara berisik, teriak, dan tawa yang berlebih-lebihan dari dua orang sepupuku. Masih 7 tahun.

Dua orang berusia 7 tahun tetap berusia 7 tahun walaupun seseorang yang berusia 23 tahun berusaha menenangkannya sepenuh hati. 

Mereka tadi ketawa waktu bisik-bisik, waktu lompat-lompat, lari-lari, ambil minum… Singkatnya, mereka tertawa praktis hampir di setiap tindakan. Berisik, deh. Tapi sayang, sih. Jadi cuma bisa bilang, “Sssst.. Jangan berisik, Pakde lagi tidur. Sini cepet bobo.”

Gitu.

Karena mereka masih rebutan mobil-mobilan (iya, yang satu cowok. Yang satu cewek tapi udah teracuni mainan mobil-mobilan dari tadi, jadi ya gitu deh), sekarang aku bisa nulis postingan ini, deh.

Tunggu.

Barusan banget, kamu nge-tweet. Kamu bilang, kamu punya cerita serem. Di twitter, kamu bilang,

Kebetulan (lagi) (lagi) (lagi).

Kebetulan (lagi) (lagi) (lagi).

Kenapa sepupu juga ya temanya? ._.


Jadi, sekarang, sambil kamu cerita di Twitter, aku masih nulis #DearViny. Di depanku, si sepupu masih ambil air minum, sambil bercerita dengan serunya tentang ketidaksabarannya untuk sahur nanti.

“Nanti kamu sahur, kan?”

“Pake apa ya sahurnya? Aku sukanya pake kriuk-kriuk.”

“Nanti kita makannya di depan TV, ya.”

Tapi yang paling absurd lagi, tadi jam 10an, salah satu dari mereka tanya,

“Mba, sahurnya 5 menit lagi, ya?”

5 menit, instead of 5 jam.

Hehehe. Cute banget sih anak kecil. Walaupun capek ngurusin anak-anak yang semangatnya kayak abis konsumsi baterai, tapi kadang celetukannya tiba-tiba bikin senyum.

Ketawa, malah.


Ngomongin soal ‘celetukan’ sepupu yang masih kecil, twitter kamu juga lagi cerita soal itu.

Di Twitter, kamu bilang, sepupu kamu kasih tau kalau ada ‘sesuatu’ di rumah kamu. Segala udah tweet misterius gitu suasananya (?).

Ada yang udah kasih advice segala gegara tweet ini.

Ada yang udah kasih advice segala gegara tweet ini.

Tapi ternyata, di tweet berikutnya…

Cie, ceritanya unexpected ending, kan? Hehehe.

Cie, ceritanya unexpected ending, kan? Hehehe.

(_ _”)

Walaupun kamu ngepost gambar tikus, kemudian kamu bilang kalau memang ada ‘sesuatu’ di rumah kamu.

Baik-baik ya Nyi. Hehehe. Mangats ❤


Sekarang sepupu aku mulai menaiki kasur. Barusan disuruh tidur sama Bude aku yang kebetulan lagi mudik dan nginep di sini. Pada takut, deh.

Apalah aku manusia 23 tahun yang gagal memaksa anak 7 tahun tidur tepat waktu.

Karena lampu kamar udah aku matiin dan aku masih ngetik diam-diam di sudut, sepertinya mataku mulai merengek minta berhenti dulu. Jadi…

Terima kasih sudah baca. Hehe.

Anyway, sebagai penutup, ada satu lagi cerita.

Celetukan sepupu, atau anak-anak, yang masih kecil, memang kadang mengejutkan, ya. Entah kitanya jadi agak ngeri sendiri, atau ketawa. Di kasus kita malam ini, celetukan sepupu kita masing-masing sangat berbeda.

Tapi, karena tweet kamu, aku jadi ingat waktu sepupuku lainnya yang masih kecil datang dan minta main sama aku (Iya, aku 23 tahun dan masih jadi tempat penitipan sepupu setiap lagi pulang kampung).

Waktu itu, rumah kosong. Cuma ada kita.

Lagi sepi, kita mau masuk ke kamar. Lagi mainan salon-salonan, ceritanya (alias, aku sedih dibedakkin sembarangan. Hiks).

Waktu lagi jalan, kita lewat kamar lain yang pintunya kebuka.

Tangan sepupuku tiba-tiba maju dan nunjuk ke dalam, sambil bertanya,

“Mba, itu siapa?”

Padahal, ga ada siapa-siapa.


Udah, ah. Sepupu aku sekarang udah panggil-panggil minta ditemenin tidur di sebelahnya.

Tugasku sebagai baby sitter belum berakhir T^T

Bye!

– r i –