#DearViny: 13 Juni, K3, dan Ketiga.

Standard

#DearViny adalah kategori khusus untuk setiap post di blog ini yang ditulis dan ditujukan untuk dibaca Viny.

Surat pertama untuk Viny, berjudul Dear, Viny. bisa dilihat di sini. Postingan awal yang memulai tagar #DearViny di blog ini ada di sini.

==============================================

Dear, Viny.

Gimana pesta K3 hari ini?

13 Juni. Tanpa diduga, tanggal 13 bulan 6 ternyata jadi hari yang mendebarkan, ya? Semua team di grup punya show konser sendiri hari ini, termasuk K3 kamu.

Pasti kamu udah latihan banyak. Iya, kan? Kita semua tahu, kamu sebelumnya baru sakit. Sakit ini-lah yang bikin kamu harus berlatih lebih keras karena kamu perlu ngejar ketinggalan.

:((

:((

Well, hey…

I mentioned about coincidences sometimes, right?

It happened again.

Jadi, saat kamu menyebut tanggal 13 Juni sebagai “hari H”, aku juga. Bukan konsernya—-aku ga dateng konser (maaf…) karena posisiku yang emang jauh.

“Hari H” ku adalah hari di mana aku ada penelitian lagi buat skripsi di sekolah SMA-ku dulu, di kota asalku, Cilacap (iya emang kayak si Desy .-.).

Skripsi.

Hahaha, lucu kan? Kamu masih 19, sedangkan aku sudah menua di atasmu, lalu sedang berusaha mencintai kata “skripsi”. Topik yang aku pilih adalah program radio berbahasa Inggris. Jurusanku bukan komunikasi, atau apapun yang berhubungan dengan radio–aku cenderung ke bahasa Inggrisnya. Penelitianku adalah melakukan program ini dengan si murid-murid kelas 10 Bahasa.

Siaran hari ini adalah siaran ketiga, karena yang pertama dan kedua sudah dilakukan Mei lalu.

Siaran ketiga.

Ketiga.

Ke-tiga.

Ke-3.

K-3.

K3.

Team K3.

The first thing I did after realizing this relation of “Ketiga” and “K3” was….

laughing.

Like, really.

I mean, saat aku kebingungan menghadapi penyiar SMA yang pronunciationnya masih perlu belajar, aku tau di sana kamu lagi siap-siap mau masuk Show 2. Kebetulan lagi.

Jadi hari ini, sebenarnya kita berjuang sama-sama, walaupun ada jarak dan kesempatan yang berpunggungan. Kesempatanku ada di ruang broadcast, sementara kamu di atas stage.

Tapi, tujuan kita hampir sama.

Kamu berjerih payah untuk mereka yang akan ada di depanmu sambil mengangkat bendera K3 dengan bangga, sedangkan aku  bersusah payah untuk mereka yang dengan penuh harap mendapat banyak ilmu dari materi radio bahasa Inggris.

Di pundak kita ada asa yang dinantikan orang-orang, ya?

Kadang, bukankah itu mendebarkan?

Perasaan semacam ini. Selalu, awalnya.

Perasaan semacam ini. Selalu, awalnya.

Tapi, pada akhirnya, kita akan memutuskan untuk maju terus. Kenapa?

Karena, kita ga perlu terus-terusan lihat ke belakang, kan?

Do. Not. Look. Back.

Alasannya: #DontLooK3ack

Alasannya: #DontLooK3ack

Bagi orang, graffiti itu sepele. Bahkan mungkin mereka ga repot-repot menoleh demi coretan warna kuning. Tapi, sekali lagi, it just happened.

Aku lagi naik motor. Pusing. Pengen lulus. Skripsi belum kelar *malah curhat*. Tau-tau di jalan deket kampus, I looked at walls on my right.

Itu dia.

Seifuku K3 yang melegenda–biru kuning yang ceria. Di sampingnya, ada nama show kalian,

DontLooK3ack.

Kalau dipikir-pikir lagi, judul itu menyenangkan, ya? Tiga kata yang maknanya mendorong kita yang, awalnya, ketakutan.

Sekarang pasti mau maju ke depan aja, kan? 😉

Tanpa ketakutan!

Tanpa ketakutan!

Foto setelah berusaha juga! Maaf murid-murid aku di-blur aja :p

Foto setelah berusaha juga! Maaf murid-murid aku di-blur aja :p

Tapi…

Hari ini, walaupun udah berusaha dengan sekuat hati, hasilnya mungkin ga sesempurna ekspektasi awal. Siaran tadi sampai aku ulang rekamannya, karena semua suara bising penyiarnya kerekam, dan ada beberapa pronunciation yang kurang tepat banget. Mau nangis?

Iya banget.

Dan kamu di sana, pasti lagi shock sama pengumuman reshuffle. Iya, fans juga kaget. Walaupun ga langsung ke kamu, tapi orang-orang di sekitarmu mulai dipindah ke sana dan ke sini…

Siaran yang kurang memuaskan dan reshuffle tiba-tiba.

Waktu aku pulang sambil nyaris putus asa, ayahku bilang,

“Ya ga papa, kan? Itu data asli dari penelitianmu. Di skripsi, data yang kamu dapet apa adanya itu yang harus kamu hadapi.”

Doesn’t it sound right?

Maka, kamu juga.

Apapun yang baru saja terjadi malam ini, adalah hasil yang kamu, dan kalian, dapat, dan harus dihadapi.

Bagaimanapun juga, 13 Juni taun ini masuk daftar ke tanggal paling berkesan kita, kan?

Otsukare, Ratu-ku!

==============================================

– ri –

Advertisements

#DearViny: #AkuLanjutinYa

Standard

#DearViny adalah kategori khusus untuk setiap post di blog ini yang ditulis dan ditujukan untuk dibaca Viny.

Surat pertama untuk Viny, berjudul Dear, Viny. bisa dilihat di sini. Postingan awal yang memulai tagar #DearViny di blog ini ada di sini.

==============================================

Dear, Viny.

Merupakan hal yang mengejutkan dan menyenangkan banget waktu tau kalau kamu akhirnya bikin tantangan menulis. Ini Viny banget!–hal yang memang diperkirakan bakal dimulai oleh Viny.

Jadi inilah cerita lanjutan versiku. Mengetahui kalau cerita ini bakal dibaca Viny adalah hal yang menakjubkan. Semoga suka, ya Ratu.


[Supaya lebih nyambung, silakan baca cerita awalnya di sini.]

Sambungan cerita dimulai… #AkuLanjutinYa

==============================================

How I love the way you move, and the sparkle in your eyes…

There’s a color deep inside them, like a blue suburban sky…

Lagu Warrant yang terdengar secara misterius itu masih mengalun. Aku diam-diam menatap matanya yang cemerlang.

Kenapa warnanya coklat sekaligus penuh warna lain yang memesona?

Dan yang lebih penting, bagaimana bisa seorang manusia merasa sangat  ingin memeluk manusia lain seperti ini?

“Yuk, kita mulai saja,” katanya, tiba-tiba. Hmm.. jadi dia sudah selesai bernyanyi? batinku geli.

 

Pukul 3 sore, di hari yang sama, di hadapan secangkir kopi

Aku masih ingat minggu lalu adalah acara angkatan sekolahku. Entah siapa yang mengusulkan, tapi kami semua mengadakan acara di pantai kota.

Bahkan dengan seragamnya yang dikenakan kali terakhir hari itu, dia masih menjadi satu-satunya orang yang membuatku menoleh.

Oh, ya. Omong-omong, dia sudah pulang sedari tadi. Kami hanya bertemu sebentar.

Dan tidak terlalu banyak bicara.

Tapi aku tidak keberatan. Duduk satu meja dengannya adalah kesempatan yang telah lama sekali aku bayangkan. Ditambah lagi, dia tersenyum lebih dari 3 kali kepadaku.

Bukankah aku orang yang paling bahagia sedunia?

Ah…

Aku jadi ingat saat itu, saat mendebarkan sekaligus memalukan.

Ingat acara kelulusan angkatanku di pantai yang tadi kusebut? Dengan segenap hati, aku menyapanya. Menembus celah mentari. Otakku berputar mencari bahan obrolan.

Lalu memutuskan untuk memuji pakaiannya.

“Bajumu bagus.”

Saat kalimat itu keluar, aku baru sadar: ia memakai seragam sekolahnya.

Bodoh.

Bisakah aku lebih bodoh lagi?

Denting sendok yang berputar asal di cangkirku seirama dengan tawa geli di kepalaku.

Tapi—hey, selalu ada saat di mana kita tak bisa bicara di depan seseorang, kan?

“Terima kasih, tapi ini hanya seragam yang seperti biasanya.”

Dia menjawab heran. Ingin tertawa, aku tahu. Sungguh baik sekali ia tidak melakukannya.

Atau mungkin ia tahu aku sangat berdebar?

“Kurasa… Begini…”

Aku melihat uap keluar dari cangkirku. Memejamkan mata, aku terus memutar kenangan minggu lalu dengannya.

“Sebenarnya ini aneh. Tapi, ada kafe baru di dekat sekolah. Apakah kau keberatan mampir ke sana besok?”

Dia terkejut. Aku tidak menyalahkannya.

“Aku akan membantumu soal essay yang sedang kau kerjakan.”

 

Pukul 10 pagi, di hari yang lain. Di atas hamparan pasir putih…

dan ombak.

“Aku masih tidak mengerti jawabanmu waktu itu. Soal kau tahu tentang aku yang sedang menulis essay.”

Aku mengedikkan bahu seadanya. Suara ombak terdengar di sela-sela napas.

“Di daftar pengumuman,” kataku, “ada 10 murid sekolah kita yang lolos seleksi pertama universitas di Jogja.”

Mataku menatapnya. “Salah satunya kamu.”

“Ah, benar, benar… Di sana ada penjelasan kalau syarat yang harus ditempuh selanjutnya adalah menulis essay tentang diri sendiri sepanjang 10.000 kata,” sahutnya sembari mengangguk.

Aku tersenyum.

Sebenarnya itu hanya setengahnya benar. Aku selalu diam-diam mencarinya saat istirahat. Apa kau mengira aku tidak akan tahu apa yang sedang dia hadapi?

Maaf, tapi dahagaku akan senyumnya membuatku selalu mencari tahu.

“Tapi aku senang kau tiba-tiba datang menawariku bantuan. Terima kasih.”

Dia tersenyum. Yang kesekian kalinya untukku.

Ya Tuhan, perasaan ini semakin meluap-luap. Apakah harus kuungkapkan saja?

“Lagipula kudengar kamu penulis yang cukup berbakat. Kolom opini dan cerita pendek di majalah sekolah… itu tanggung jawabmu, kan?”

Aku mengangguk. Berpura-pura tuli pada bunyi jantung yang memekakkan organ tubuh.

“Kalau begitu, aku benar-benar beruntung. Kurasa kau tidak keberatan untuk datang malam ini ke rumahku? Perayaan persahabatan kita?”

Deg. Rasanya ombak yang baru saja mencium telapak kakiku lebih dingin dari sebelumnya.

Perayaan persahabatan.

Padahal, aku sudah belajar mengenalnya sedikit demi sedikit hari itu. Aku mendengar ceritanya. Aku membaca tulisannya. Aku membiarkan ia bergerak untuk memudahkanku menciptakan rangkaian kata yang pas pada essay tentang dirinya.

Kurasa itu tidak mengubah apapun terlalu banyak, huh?

Bodoh, cepat-cepat aku menyadarkan diriku sendiri.

Memangnya aku mengharapkan apalagi? Toh aku tidak jatuh cinta.

Iya, kan?

“Tentu saja,” jawabku pada detik kelima.

Dia terkikik. Lebih dari sekedar senyuman. Tubuhnya mendekat ke arahku.

Merangkulku.

Tepi roknya menyentuh batas akhir rokku juga. Rok yang sama. Sekali lagi hari itu, kami sepakat mengenakan seragam kesukaan dari sekolah kami yang khusus perempuan.

Seragam kami sama.

Walaupun ternyata perasaan kami jelas berbeda.

Tahu-tahu aku mendengarnya lagi. Lagu Warrant.

I don’t know what to do

but I’m never giving up on you…

Seseorang baru saja lewat sambil bernyanyi asal-asalan. Sial, kerongkonganku tercekat.

“Aku suka lagu itu. Kau suka?”

Heaven isn't too far away, is it?

Heaven isn’t too far away, is it?

Dia tersenyum—senyum yang sama yang selalu membuatku terpikat.

Aku tidak sempat menjawabnya. Otakku terlalu sibuk berpikir tentang obsesiku pada senyumnya dan keinginanku memeluknya.

Tapi, apakah…

Apakah ini tak boleh?


– r i –

#DearViny: Viny, Vidi, Vici

Standard

#DearViny adalah kategori khusus untuk setiap post di blog ini yang ditulis dan ditujukan untuk dibaca Viny.

Surat pertama untuk Viny, berjudul Dear, Viny. bisa dilihat di sini. Postingan awal yang memulai tagar #DearViny di blog ini ada di sini.

==============================================

Dear, Viny.

To tell the truth, I was planning to write a post with this title, right before you favorited a tweet of Sinka’s. Look. What a super coincidence, huh?

Veni, Vidi, Vici

Veni, Vidi, Vici

Jadi, sekitar tahun 47 Sebelum Masehi, Julius Caesar berperang melawan Pharnaces II dari Kerajaan Pontus. Perang ini menjadi titik karir militer Caesar, karena berhasil menjadi pemenang. 150 tahun setelah pertempuran, Plutarch menulis bahwa Julius Caesar menggunakan kalimat Veni, Vidi, Vici untuk menegaskan kemenangannya.

Artinya, aku datang, aku lihat, aku menang.

Banyak yang salah kaprah menuliskannya jadi Vini, Vidi, Vici. Kalau diubah jadi Vini, jangan salahin aku jadi ingetnya Viny. Hehe. Tapi, bagaimanapun juga, kalimat ini memang jadi menarik kalau Viny pahami.

Saat Viny datang ke JKT48, belum semua orang tahu Viny. Aku juga belum. Aku, dengan sadar hati, tentu tau kalau aku masih mendukung member lain, yang selalu aku sebut sebagai inspirasiku.

Saat Viny datang ke JKT48, belum semua orang tau kalau sebenarnya Viny juga punya banyak mimpi.

Kamu datang dari formulir ini!

Kamu datang dari formulir ini!

Lalu mulai mendekati berpasang-pasang mata.

Lalu mulai mendekati berpasang-pasang mata.

Pelan-pelan, Viny dilihat, tentu saja. Viny juga melihat–belajar.

Prosesmu berkembang yang diikuti sekian banyak orang, bukankah itu menyenangkanmu?

Maka, bersyukurlah dengan nomor 7 ini. Angka itu bukan berarti “yah belum bisa jadi center”, tapi berharga jauh lebih banyak.

Angka 7 ini adalah usaha barisan pendukungmu, doa yang dikirimkan dari jauh, usaha keras yang dilakukan bersama-sama, harapan yang ditumpukan di bahu kamu, kepercayaan pada kamu untuk menunjukkan pada semua orang…. kamu-lah ratunya.

Her Majesty Ratu Vienny Fitrilya

Her Majesty Ratu Vienny Fitrilya

Angka 7, buat aku-pun spesial. Aku penikmat tulisan J.K. Rowling, khususnya Harry Potter. Sebagai Potterhead, angka 7 berarti banyak loh.

7 seri.

7 Weasleys.

7 tahun sekolah di Hogwarts.

7 Potter di hari dia akan pergi dari Privet Drive.

Dan… banyak! Kalau penasaran, baca di sini.

Itu baru sebatas Potterhead, Vin. Sebagai Potterhead plus pendukung kamu, angka 7 tentu bertambah maknanya.

Karena angka 7 dan Viny sekarang adalah hal yang menakjubkan.

Lucky Seven. Viny deserves it!

Lucky Seven. Viny deserves it!

Karena sekarang semua orang tau Viny punya banyak mimpi dan (seperti yang selalu Viny bilang) sekaligus bukan satu-satunya pemimpi di JKT48, what about stepping closer and closer to our dreams then, after showing them to the world?

Karena, dengan optimisme dan kebahagiaan yang positif, semuanya bisa menjadi mantra pendorong terbesar.

Ratu Vienny Fitrilya, S E L A M A T !

==============================================

PS: Kamu di posisi 7, jelas-jelas mengingatkanku pada sumber inspirasi yang aku dukung sebelum kamu.

Inspirasinya bernama Rica Leyona

Inspirasinya bernama Rica Leyona

Seperti kebetulan, ya? Tapi aku harap kamu juga akan tetap maju dengan mimpimu, menebar keajaiban mimpi pada siapapun.

Mau, kan?

– r i –

#DearViny: 23

Standard

#DearViny adalah kategori khusus untuk setiap post di blog ini yang ditulis dan ditujukan untuk dibaca Viny. Surat pertama untuk Viny, berjudul Dear, Viny. bisa dilihat di sini. Postingan awal yang memulai tagar #DearViny di blog ini ada di sini.

============================================== Dear, Viny. Masih inget kan sama postingan kamu yang ini di G+? Di situ, aku khususnya terpaku sama satu paragraf kamu di sana. Nomormu.

23vin

Tulisan: “23. Itu nomor aku saat final audisi. Sama seperti tanggal ulang tahunku. Percaya atau tidak karena nomor itu aku sedikit lebih percaya diri lho.”

Aku juga ingat, dengan seseorang yang lebih dulu menginspirasiku–seseorang yang jauh lebih kamu kenal daripada aku mengenalnya. Dengan cake-nya.

23

Namanya Rica Leyona, tentu saja. Yang sudah 23, tapi senyumnya selalu muda!

Hari ini, waktu aku bangun pagi-pagi setelah matahari mengedipkan matanya, aku menyadarinya dengan jelas bahwa aku berubah menjadi gadis 23 tahun.

23, entah bagaimana, sejak hari ini, berubah menjadi angka yang akan aku sukai. At least for this one year.

Tadinya, aku berniat mengiyakan semesta di kepalaku yang ingin pergi ke sana: ke barisan kursi de depan panggung kebesaranmu. Sejak lama. Untuk bertemu Viny. Saat aku cek di website, tepat hari ini, 29 April, ada show Team K3-mu. Ada kamu. Lalu aku harus bagaimana kalau nyatanya tidak bisa bertemu? Kamu suka sekali bertanya, “Hari ini sudah lakukan apa saja untuk mendekati mimpimu?”. Jadi, ketika pagi tadi aku bersiap-siap pergi ke sebuah SMA di kota kelahiranku ini, aku mencoba sama sekali tidak kecewa.

Hari ini, di hari ulang tahunku, aku pergi ke SMA untuk keperluan penelitian skripsiku. Bukankah itu juga membuatku lebih dekat dengan mimpiku, Vin?

Kukira akan menjadi hari yang biasa, tapi tahu-tahu ada cahaya lilin di sore hari. Semua orang di rumah bernyanyi. Dan confetti. Juga kue coklat.

IMG-20150429-WA0030

Serpihan confetti yang berserakan. Partikelnya mungkin juga berusia 23.

Lalu mahkota. Dan bantal yang tiba-tiba dikirim ke rumahku tepat setelah confetti terakhir diletuskan di atas kepalaku.

Mahkota setelah pesta!

Mahkota setelah pesta!

Entahlah, entah kenapa mahkota–itu pun konsep tiba-tiba. Tapi ketika aku pakai, yang terlintas adalah nama kamu: Ratu! Haha.. Lucu ya. Kok bisa pas aja gitu. Yah.

Hari ini, setelah berusaha mendekati mimpi, setelah menua, dan setelah dipeluk berulang kali, aku menulis ini di saat menjelang akhir hari. Selama 23 tahun, aku belum lakukan banyak hal. Seperti kamu, aku juga pemimpi. Kalau kita punya kotak harta sendiri-sendiri, mungkin punyaku penuh dengan harapan. Tapi, seperti kata kamu, kita harus semangat untuk mimpi kita. S e t u j u.

Walaupun aku gagal nonton kamu di hari ulang tahunku, tapi, ketika aku buka twitter kali ini, ada foto kamu di sana. Empat Viny dalam satu foto. Seperti April: bulan ke-empat.

inyi

4 Viny. Semuanya kesukaanku!

Walaupun hari ini akan datang satu kali dalam setahun saja, aku masih ingin bertemu lagi dengan 29 April yang lain. Seperti kamu dan 23 Februari-mu.

Iya, kan? 😉 ============================================== PS: Hari ini H-1 vote ditutup. Semoga dukungan semua orang di belakangmu dan siapa saja yang terdorong menunjukkan mimpinya, bisa menerbangkanmu di barisan senbatsu! Semangat, okay?


– r i –

#DearViny: Ketakutan dan Bingo

Standard

#DearViny adalah kategori khusus untuk setiap post di blog ini yang ditulis dan ditujukan untuk dibaca Viny.

Surat pertama untuk Viny, berjudul Dear, Viny. bisa dilihat di sini. Postingan awal yang memulai tagar #DearViny di blog ini ada di sini.

==============================================

Dear, Viny.

Aku bukan pakar berbicara-di-depan-umum. Aku terlalu suka mencium bau halaman-halaman buku, atau mengibas debu yang menempel di pinggiran punggung buku. Aku lebih suka mendengarkan–kalau boleh jujur. Atau bercerita–tapi hanya kalau aku diberi media kertas dan pena, atau notebook, kalau kau mau yang lebih canggih.

Singkatnya, aku pembicara yang payah.

Tadinya.

Tapi, sebagai mahasiswa kependidikan, aku harus terbiasa bicara di depan umum–at least, di depan kelas. Atau murid-muridku kelak. Ya iya lah! Mana suka kita sama guru yang kerjanya cuma diem, masuk kelas, kasih tugas susah? ._.

Jadi, setelah menarik napas dalam-dalam setiap kali ketakutan itu muncul, aku mempengaruhi otakku. Aku nervous, iya. Tapi itu bukan solusi, kan? Aku-yang-sedang-menyelami-cerita-dalam-buku, kelak, saat waktunya tiba, harus berubah jadi aku-yang-menjadi-pusat-atensi-banyak-kepala.

Lalu, semuanya terjadi.

Waktu itu, semester 6. Hampir semester 7. Di antara itu.

Bulan Juli sampai September, ada kegiatan KKN sekaligus PPL untuk mahasiswa kependidikan di kampus. Itu artinya….

waktuku untuk bicara di depan banyak orang semakin dekat!!!! *ada banyak tanda seru yang sebenarnya waktu itu terpikirkan–ga akan cukup kalau kuturuti tanganku. Ngerti, kan.*

PPL adalah kegiatan praktik setiap mahasiswa kependidikan untuk mengajar. Waktu itu, aku dapat tempat di sebuah SMP di Kabupaten Magelang. Walaupun nantinya aku mengajar Bahasa Inggris yang praktis selalu aku cintai sejak SD, tapi fakta itu ga membantu sama sekali. Ada banyak genderang yang tiba-tiba ditabuh di kepalaku. Berisik. Mendebarkan.

“Miss April, silakan.”

Dengan kalimat itu, si guru Bahasa Inggris memanggilku masuk. Kelas pertama yang aku masuki adalah Kelas 7 B. Itu pertama kalinya aku masuk ke kelas sungguhan untuk bersiap mengajar. Sebelumnya, aku sudah pernah masuk, sih, di sekolah lain (di sebuah SMP di Jogja yang letaknya di depan SMA yang pasti Viny tahu :p). Tapi hanya untuk observasi keperluan mata kuliahku–bukan mengajar.

Waktu aku melihat mata mereka–anak yang duduk paling depan sampai anak yang duduk paling belakang dekat tempat sapu–ada angin yang berembus di telingaku. Kalau aku pengecut, aku pasti sudah lari sejak 3 langkah pertamaku tadi. Kalau aku kelewat takut, mungkin aku akan terus menunduk habis-habisan dan berkeringat.

Tapi, dengan aku yang jadi perhatian semua anak ini, aku tahu aku tidak mau menyerah.

A: Good morning, class! How are you today?

E: Good morning, Mba/Bu *semua orang masih bingung panggil apa. Tertawa satu. Tertawa dua. Tersenyum*

A: Firstly, I think I need to introduce myself to you. My name is April, and you can simply call me Miss April. I am a student of English Education Department in ** University, and I’ll be having a Teaching Practicum here in your class.

E: *bergumam* Miss April…

A: Kalian sudah tahu kan saya mau mengajar apa?

E: Bahasa Inggris!

A: Excellent! Any question, class?

E: Miss asalnya dari mana?

A: Miss asli Cilacap!

Lalu seketika semua ngakak.

Belakangan, aku baru sadar, aku jawab pertanyaan terakhir dengan aksen asli Cilacap.

Ya ga papa sih. Aksen dan dialek asli, kan seksi! :p

Tapi, dari hari itu, aku merasa baik-baik saja. Walaupun aku tahu aku takut setengah mati di awal, tapi semuanya berakhir baik-baik saja. Saat itu, setiap kali mau ngajar dan aku mulai takut lagi, aku ingat kata-kata ini:

Do one thing everyday that scares you.” – Eleanor Roosevelt.

Dan hari pertama perkenalan yang (tadinya) menakutkan itu, sudah jadi satu kali bingo buatku.

==============================================

Kelas 7 B kelas paling kocak.

Kalau kamu berdiri di depan mereka, kamu bisa jadi guru yang paling mereka dengar, atau bahkan paling mereka tidak dengar–semuanya ga bisa ditebak. Muridnya cuma 32, tapi rasanya kayak bersiap-siap ngasih makan anak-anak se-RT. Kalau berisik, siapkan volume terbesarmu–atau bahkan dengan tepukan penghapus papan tulis. Kalau mereka diam, kamu juga yang harus pusing memancing suara setidaknya keluar walau hanya diawali dengan, “Mungkin…”.

Aku ingat saat itu masuk 7 B untuk belajar spelling. Dengan semangat, aku bahkan masuk lebih awal dan mencari video paling lucu yang mungkin mereka suka. Video ini disertai lagu. Tahu kan, lagu apa?

Bingo.

Reaksinya bagus, menyenangkan! Sebentar saja, mereka bisa menyanyi dengan kompak (There was a farmer had a dog and Bingo was his name o…). Mereka menepuk tangan setiap kali huruf yang harusnya tidak dieja mendapat giliran irama. Semuanya tertawa.

Sampai tiba-tiba….

Miss, Bingo-nya JKT48, dong.

Hah!

Kukira aku sudah menyimpan rapat semua identitasku sebagai penikmat musik JKT48. Kenapa harus disebut? Dalam dua detik, semua kepala mengangguk.

Rupanya, 95% siswa kelas 7B pencinta JKT48.

“Miss, please, Miss..”

“Miss, ada videonya kan? Itu kelihatan loh.”

B o d o h.

Folderku berantakan–tentu saja. Saat lagu Bingo tadi selesai, tampilan layar kembali ke susunan folderku yang payah. DI luar, di paling atas, jelas sekali ada file konser JKT48.

Kelas ramai. Semuanya menatap penuh minat.

Hahahaha lucu sekali sebenarnya. Serius!

Tapi, akhirnya, semua berakhir dengan nego. Kuminta dulu semua belajar dengan tenang. Semua mengatupkan bibir tanpa protes. Semua mendengarkanku, yang sebenarnya pembicara yang payah. Ini menakutkan–meminta orang lain menuruti kata-kataku–tapi, hey, aku bisa melakukannya! Aku melakukan hal yang aku takuti dan aku berhasil!

Dua bingo, kurasa.

Setelah itu, setelah semua berjalan dengan lancar, kupastikan masih ada waktu. Kelas 7B ada di pojok. Tidak ada yang akan repot-repot lari ke sini hanya untuk melongok. Dengan kedipan rahasia, kutekan play di laptop, lalu memunculkan potongan penampilan JKT48–menyanyikan lagu Bingo.

inyibingo

Aku tertawa: nyaris semuanya menyanyi berbisik-bisik!

Mereka melihat dan mendengar lagu sambil kuawasi. Semua senang. Anak-anak SMP yang senang. Semuanya mendengar. Bahkan setelah lagu selesai, mereka bisa menyebut kata-kata yang mereka dengar dan melanjutkan spelling kata-kata tersebut dalam Bahasa Inggris, sampai bel benar-benar mengakhiri kelas kami.

blur

==============================================

Setelah PPL selesai, aku malah kangen ngajar. Lucu, ya? Awalnya takut, sekarang malah rindu…

Kalau Viny… punya pengalaman gini ga ya?

– r i –

[Challenge] #DearViny Starts!

Standard

Dear, Viny.

Aku suka banget nulis. Banget. Dari SD, aku nulis cerita. Walaupun ceritanya acakadut dan belum logis, tapi aku tetep suka.

Di postingan Viny beberapa hari lalu, Viny nulis soal menolak lupa. Tentang posisi penting kegiatan menulis.

Setuju.

Menulis itu berarti kamu menyukai kenangan ini dan ga mau kenangannya hilang begitu aja, kan?

Aku tau JKT48 itu tentang gadis-gadis yang berusaha terlihat, dengan lagu dan hentakan tarian yang memukau. Tapi aku sangat suka pada fakta bahwa sekarang aku akan terus mendukung kamu yang menyukai huruf-huruf juga.

Karena itulah ide ini terpikirkan. Karena Viny. Dan kesukaan menulis. Kenapa ga digabungin?

Mulai dari sini, project #DearViny -ku dimulai.

Aku akan menulis dengan tag #DearViny di web ini–untuk Viny. Postingan pertama? Tentu aja yang ini.

Semoga Viny juga terdorong rajin nulisnya, ya!

Ayo, nulis lagi lagi lagi 😉

– r i –

Dear, Viny.

Standard

Mungkin karena nama kamu Ratu, ada efek besar yang menguar dari sana. Mungkin karena nama kamu Ratu, fandom kamu terdengar sangat megah sebagai Queendom. Mungkin karena nama kamu Ratu, pesonamu selalu kelihatan paling utama.

Tapi aku inget, pertama kali aku lihat kamu sebagai member generasi kedua, aku bahkan ga tau nama lengkapmu. Aku cuma tau kamu sebagai ‘Viny’. Nama lengkap kamu? Aku tau saat aku buka twitter kamu. Atau masuk ke web official. Aku lupa yang mana dulu—tapi, aku ingat—aku jatuh ke kamu.

Karena aku perempuan, jadi ini bukan jatuh cinta semacam roman antara lelaki dan wanita. Karena aku perempuan, jadi ini ga ada hubungannya dengan kupu-kupu dalam perut yang bikin grogi dan muka memerah. Mungkin karena aku perempuan, yang aku pikirkan cuma:

Kamu orangnya.

Selama ini, selama aku sendiri masuk ke lingkaran fandom JKT48, aku punya kok member yang paling aku suka. Aku seneng tiap kali semua orang bersorak panggil dia, dukung dia, cerita tentang dia… Tapi ternyata, mataku lihat kamu.

Ngeri, deh. Bukan mau ga setia—karena, ya ampun, di JKT48 ada banyak kepribadian menarik! Dan kamu tau-tau datang, dengan personality yang menakjubkan. Kamu sadar?

Buku dan musik. Kamu berbakat. Kamu mencintai buku seperti kamu mencintai musik. Lalu kamu menulis. Tau ga? Itulah yang bikin aku jatuh.

Orang yang paling aku suka di JKT48 udah grad, dan aku berterimakasih sama dia karena sudah sangat menginspirasi. Tanpa bisa aku hentikan, rasa penasaranku ke kamu muncul lagi. Membumbung.

Mungkin kamu punya saran? Apa ini ada hubungannya dengan aku yang suka buku dan nulis juga? Atau karena—simplyyour personality is just… great?

Di salah satu postinganmu di G+, kamu bilang kalau kamu suka denger suara kamu di kepalamu. Kamu tanya apakah itu aneh.

Menurutku, jawabannya “ga”.

Karena saat itu, diri kita sedang memberitahu kita bahwa kita akan selalu punya diri kita sendiri.

Iya, kan?

Mulai hari ini, aku juga mau jadi bagian dari mereka yang berseru untuk kamu. Tetap #TunjukkanMimpimu untuk kami ya?

– ri –